Alasan “Cuma Dekat” Yang Mematikan : Normalisasi Berkendara Tanpa Helm
Alasan “Cuma Dekat” Yang Mematikan : Normalisasi Berkendara Tanpa Helm
Oleh : J A N N A T I N A U L I A
Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Semester 6 Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram.
BANYAK pengendara sepeda motor menggunakan alasan “Cuma Dekat” untuk tidak memakai Helm saat berkendara di jalan raya. Kebiasaan ini menunjukkan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap risiko kecelakaan dalam aktivitas sehari-hari. Mereka sering menganggap jarak pendek sebagai kondisi aman tanpa mempertimbangkan potensi bahaya di perjalanan. Padahal, kecelakaan bisa terjadi kapan saja tanpa mengenal waktu dan tempat. Sikap meremehkan risiko ini membentuk pola pikir keliru yang membahayakan keselamatan. Akibatnya, perilaku tidak menggunakan helm terus berlangsung secara berulang dalam kehidupan masyarakat.
Masyarakat secara tidak langsung menormalisasi kebiasaan tidak memakai Helm melalui interaksi sosial di lingkungan sekitar. Banyak orang meniru perilaku tersebut karena mereka melihat orang lain melakukannya tanpa mengalami dampak langsung. Lingkungan sosial membentuk persepsi bahwa penggunaan helm hanya penting untuk perjalanan jauh di jalan besar. Anggapan ini membuat sebagian pengendara mengabaikan keselamatan dalam perjalanan singkat. Kebiasaan kolektif ini menciptakan budaya abai terhadap aturan lalu lintas di masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan lemahnya kesadaran bersama terhadap pentingnya keselamatan berkendara.
Sebagian pengendara memakai Helm hanya ketika mereka merasa takut terhadap razia aparat Kepolisian di jalan utama. Mereka sering melepas Helm saat berkendara di jalan kecil atau di sekitar lingkungan rumah. Perilaku ini menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap aturan belum didasarkan pada kesadaran pribadi. Padahal, Helm berfungsi sebagai pelindung utama kepala saat terjadi kecelakaan di jalan. Ketidaksadaran ini menempatkan pengendara pada risiko cedera serius dalam situasi yang tidak terduga. Oleh karena itu, penggunaan helm seharusnya dilakukan secara konsisten dalam setiap perjalanan.
Setiap pengendara harus menyadari pentingnya penggunaan helm dalam setiap perjalanan di mana pun dan kapan pun. Alasan “Cuma Dekat” tidak dapat dijadikan pembenaran untuk mengabaikan keselamatan diri. Jarak tempuh tidak menentukan tingkat risiko kecelakaan di jalan raya. Kesadaran individu menjadi faktor utama dalam mengubah kebiasaan berbahaya ini. Penggunaan helm merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan pengguna jalan lain. Oleh karena itu, keselamatan harus selalu diutamakan dalam setiap aktivitas berkendara.

Tinggalkan Balasan