SHOPPING CART

close

PMII : “Full Day School” Membunuh Madrasyah Diniyah

Puluhan masa PMII menggelar aksi demo di depan Kantor DPRD Loteng, menolak penerapan Full Day School, Senin, (14/8/2017).

SUARALOMBOKNEWS.COM – Lombok Tengah | Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Lombok Tengah, (Loteng),  menggelar aksi Demo di depan Kantor DPRD Loteng, Senin, (14/8/2017).

Aksi Demo yang digelar PMII itu  untuk menolak penerapan  Permendikbud RI Nomor Nomor 23 Tahun 2017 tentang Full Day School di Loteng.

Dalam orasinya PMII menyampaikan,  jika Full Day School di terapkan di Loteng bisa berdampak buruk kepada dunia pendidikan di Loteng.” Full Day School Membunuh Madrasyah Diniyah.  Full Day School adalah kebijakan yang tidak memperhatikan dampak negatif yang akan ditimbulkan terutama di kalangan Pondok Pesantren yang penuh akan aktivitas pesantrennya. Selain itu Full Day School ini bisa menghambat ataupun membunuh aktivitas – aktivitas kerohanian berbasis pendidikan yang telah dijalankan masyarakat Loteng. Madrasyah Diniyah sebagai Gudangnya Islam Moderat yang selama ini tempat anak cucu kita menimba ilmu Agama Islam,” kata Ketua Umum PMII Loteng Syarifudin.

Jika Full Day School ini diterapkan maka ratusan Madrasyah di Loteng akan mati dan bisa menumbuhkan  nilai nilai intoleran dan Radikalisme akan semakin tinggi, karena kurangnya pemahaman Keagamaan yang mengajarkan nilai – nilai sopan santun dan berahlak .” Ketika pertumbuhan islam moderat berkurang sementara Islam Garis keras , intoleransi semakin tinggi bisa dipastikan 5 – 10 tahun yang akan datang Loteng  bisa perang saudara dan bisa dibayangkan Loteng akan menjadi semacam kabupaten / Kota yang ada di Negara – negara Timur Tengah yang berkecamuk dengan saudaranya.  Sehingga bukan hannya Madrasyah Diniyah saja yang terancam akan tetapi Loteng,  dan sepertinya itu tidak disadari oleh Pemkab. Loteng,” sebut Syarifudin.

Menurut Syarifudin,  selama ini Loteng  yang dikenal dengan masyarakat Mayoritas Muslim tetap dalam keadaan yang damai tanpa ada perseteruan  ataupun pertumpahan darah antar masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya,  adalah tidak lain karena Loteng memiliki ratusan Pondok Pesantren dan Madrasyah Diniyah,  dimana tempat belajar untuk saling mengkedepankan etika dan kehidupan bermasyarakat  berbangsa dan bernegara,  oleh karenanya jika Full Day School ini diberlakukan di Loteng sama halnya pemerintah akan menghilangkan peran Pondok Pesantren dan Madrasyah Diniyah  dalam kemajuan Loteng,  selain itu Full Day School ini dapat  meningkatkan pertumbuhan  intoleran dan radikalisme dikalangan pelajar sebab kurangnya pemahaman tentang nilai keagamaan yang biasanya di ajarkan di Madrasyah Diniyah.” Jika  Full Day School ini diterapkan , bisa menghambat  karakter peserta didik,  karena tekanan lingkungan sekolah. Kesehatan anak akan menurun karena kurangnya waktu untuk istirahat. Guru Honorer yang tiak memiliki penghasilan tetap akan terhambat ekonominya,  sebab tidak bisa mencari penghasilan tambahan, Budaya mengaji siang santri akan tergusur dan hannya tinggal jadwal saja. Meningkatnya pemahaman intoleran dan Radikal karena kurang pemahaman terhadap nilai – nilai Agama Islam yang sopan dan berahlak,” tuturnya.

Dalam orasinya itu, PMII menyampaikan sejumlah tuntutan kepada para Wakil Rakyat Loteng, diantaranya menuntut Pemerintah Pusat menghapus Permendikbud  Nomor 23 Tahun 2017 tentang Full Day School, meminta Pimpinan DPRD Loteng menyampaikan dan meneruskan Aspirasi masyarakat  kepada Pemerintah Pusat terkait dengan penolakan penerapan Full Day School, meminta kepada Pemkab. Loteng  untuk tidak menerapkan Full Day School di Loteng .” Jika tuntutan kami tidak diindahkan maka kami akan hadir aksi lagi bersama seluruh masyarakat Madrasyah Diniyah yang ada di Loteng,” ancam Syarifudin.

Dihadapan puluhan masa PMII, Ketua Komisi IV DPRD Loteng Lalu Supriadi berjanji akan menyampaikan aspirasi yang disampaikan PMII terkait dengan penolakan penerapan Full Day School di Loteng ke Pemerintah Pusat.” Apa yang menjadi aspirasi masyarakat ini akan kami sampaikan ke pemerintah pusat,” janjinya. (slNews.com/rul)

Tags:

0 thoughts on “PMII : “Full Day School” Membunuh Madrasyah Diniyah

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

Hari Jadi Lombok Tengah 75
LOGO Hari Jadi Lombok Tengah 75

KATEGORI

STATISTIK