Gelar PKM, Dosen Unram Cegah Stunting Melalui Olahan Daun Kelor di Desa Jago

SUARALOMBOKNEWS | Dosen Universitas Negeri Mataram (Unram, Nusa Tenggara Barat (NTB), melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) tentang upaya pencegahan stunting melalui inovasi olahan daun kelor di posyandu tulip Dusun Jago Daye, Desa Jago, Kecamatan Praya, Kabupaten Lombok Tengah, pada Senin (05/05/2025).
Tim PKM Unram terdiri dari lima orang dosen program studi kimia Unram, yakni Dr. Nurul Ismillayli selaku ketua, dibantu empat orang anggota dosen, yakni Saprini Hamdiani, Ph.D., Iwan Sumarlan, Ph.D., Lely Kurniawati, M.Si., dan Dr. Dhony Hermanto.
Tim PKM juga dibantu oleh 2 orang tenaga kependidikan dan 2 orang mahasiswa. Penyelenggara PKM yang mengusung tema tentang “Makanan ringan sehat olahan daun kelor sebagai upaya peningkatan gizi untuk mencegah stunting pada anak”.
Pentingnya peranan akademisi melalui kegiatan Tri Dharma yaitu PKM membuka keran bagi dosen untuk berkontribusi kepada masyarakat dalam segala bidang. Salah satunya adalah isu kesehatan yang selalu menjadi perhatian pemerintah yakni stunting. “Tentunya perlu berbagai upaya dalam pencegahan dan penanganannya. Stunting merupakan masalah kesehatan serius yang dapat terjadi pada anak-anak di berbagai wilayah, termasuk Desa Jago Lombok Tengah (angka stunting mencapai 17,6 persen pada tahun 2023 menurut data BPS). Stunting terjadi ketika anak-anak mengalami kekurangan gizi kronis, yang menyebabkan pertumbuhan tinggi badan lebih pendek dari standar usianya,” ungkap Ketua Tim PKM Unram, Dr. Nurul Ismillayli.
Penanganan stunting di desa merupakan ujung tombak keberhasilan program ini, terutama melalui perbaikan gizi anak dan balita secara langsung.
Memberikan makanan ringan sehat sebagai pendamping makanan utama balita dan anak-anak, yang salah satunya memanfaatkan daun kelor.
Telah diketahui daun kelor kaya akan nutrisi dengan kandungan protein (30 g/100 g daun kering), zat besi (97,9 mcg/g kering daun), prekursor vitamin A (17,6-39,6 mg/100 g daun kering), vitamin C (220 mg/100 g), kalsium (440 mg/100 g), dan lainnya. “Dengan nilai gizi yang tertera, daun kelor bisa menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting. Sayangnya, pemanfaatan daun kelor masih kurang beragam akibat rasa dan baunya yang kurang disukai anak-anak ketika dikonsumsi,” papar Dr. Nurul Ismillayli.
Sebagai alternatif pengolahan, daun kelor diolah menjadi bahan setengah jadi yaitu bubuk kelor yang selanjutnya diproses menjadi berbagai varian makanan dan minuman. Makanan olahan kelor seperti puding kelor, es krim kelor, teh kelor, stik kelor, kue, nugget, biskuit, kerupuk, bolu, serabi, brownies, dan lain-lain.
Kegiatan ini mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat.
Salah satu peserta, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Tim PKM Unram yang telah menyelenggarakan kegiatan ini. Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh sangat bermanfaat dan langsung dapat diterapkan di rumah.
Ia berencana untuk mengolah daun kelor yang ditanam di pekarangan rumahnya menjadi camilan sehat dan enak seperti cookies daun kelor. Tepung daun kelor bisa diolah menjadi berbagai macam makanan dan minuman yang lebih variatif yang dapat membuat anak lebih tertarik untuk mengkonsumsi.
Kepala posyandu tulip Dusun Jago Daye, Desa Jago, Siti Maryam, S.Pd.I sangat mengapresiasi kegiatan PKM Unram tersebut.
Siti Maryam, S.Pd.I menyampaikan bahwa kegiatan akan sangat membantu memberikan informasi dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting.
Siti Maryam, S.Pd.I juga berencana menerapkan hasil kegiatan PKM ini pada Pembuatan Makanan Tambahan (PMT) yang biasanya diberikan pada anak dan balita ketika posyandu. “Kita ingin generasi ini dapat hidup sehat dengan gizi yang berkecukupan, meskipun ekonomi masyarakatnya susah. Dengan adanya inovasi, kita harapkan dapat menambah wawasan bagi masyarakat dalam mengolah makanan dengan nilai gizi dan nutrisi optimal,” ujarnya. [SLNews – rul]

Tinggalkan Balasan