Hasan Masat Ungkap Pasien Miskin Yang Menderita Gizi Buruk Pulang Paksa Dari RSUD Praya

LOMBOK TENGAH | Aktivis Penggiat Sosial yang juga Ketua Tim Percepatan Pembangunan Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Hasan Masat (HM) menyoroti buruknya pelayanan kesehatan di Rumah Sakit milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah yakni Rumah Sakit Daerah Umum (RSUD) Praya.
HM menceritakan, salah satu contoh buruknya pelayanan kesehatan di RSUD Praya yakni meninggalnya salah seorang Balita 4 bulan, Lailan Mahsyar Zainuddin, warga Dusun Pemotoh Barat, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah yang penyebabnya diduga karena ditelantarkan dan tidak mendapatkan pelayanan kesehatan oleh Petugas IGD RSUD Praya, Lombok Tengah dan salah seorang pasien miskin yang mengalami gizi buruk yang pulang paksa dari RSUD Praya karena tidak mampu membayar biaya perawatan. “Soal Pelayanan Rumah Sakit Daerah Lombok Tengah (kasus kematian balita 4 bulan). Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada hari Jumat (14/10/2022), saya juga membawa seorang pasien, Muh. Maulana, 4,5 tahun, dari Desa Beleke, Kecamatan Praya Timur yang untuk identifikasi awal teridentifikasi gizi buruk. Muh. Maulana hidup bersama neneknya, setelah ibunya meninggal setahun yang lalu dan bapaknya ditangkap di Malaysia, karena masuk ke Malaysia untuk menjadi PMI (Pekerja Migran Indonesia ) lewat jalur Ilegal. Setelah beres beres dirumah nenek Maulana, sekitar jam 15.30 Wita, kami berangkat membawa Maulana bersama neneknya ke RSUD Praya, meskipun dua hari sebelumnya, keluarga tersebut, pulang paksa dari rumah sakit yang sama karena tidak mampu bayar dan memenuhi kebutuhan jaga dan lain lain selama di rumah sakit, saya dibantu seorang dermawan yang menambah keuangan kami, ucap nenek Maulana, cerita waktu keluar rumah sakit beberapa hari yang lalu,” cerita Hasan Masat, Selasa, (18/10/2022).
Setibanya di RSUD Praya bersama pasien Maulana kata Hasan Masat, setelah diperiksa di IGD RSUD Praya, sampai dengan malam hari, pasien Maulana tidak kunjung mendapatkan ruang rapat inap.
Namun, setelah dirinya menelpon untuk meminta bantuan mendapatkan kamar rawat inap kepada salah seorang petugas RSUD Praya yang tidak ia sebutkan namanya, pasien Maulana un bisa mendapatkan kamar rawat inap. “Masih pada hari jumat tersebut, sekitar pukul 16.00 Wita, setelah pemeriksaan ini itu, sampai Pukul 19.00 Wita jelang sholat Isya, kami belum memperoleh kamar perawatan inap, alasan pihak rumah sakit, hasil observasi dokter belum keluar, kami sabar menunggu, kami tanyakan lagi selang berapa lama, belum konek pendaftaran antara nama dan kamar inap, oke harus bersabar dan pasien di UGD demikian rame, kita memaklumi, dengan memberi waktu, kami tanyain lagi ke petugas jaga, belum ada tenaga yang akan mengantar dan menerimanya di ruang inap. Akhirnya saya telpon seorang pegawai rumah sakit yang saya kenal untuk meminta bantuan agar bisa lebih cepat karena sudah 6 jam lebih kami duduk menunggu di IGD. Alhamdulillah dengan tenaga medis yang bersumber dari gendongan neneknya, tanpa dipan (tempat tidur) yang didorong, kami membawa Maulana, ke lantai tiga khusus perawatan Isolasi anak RSUD Praya,” ungkapnya
Dengan pengalaman yang dialami di RSUD Praya itu, Hasan Masat menanti ketegasan Bupati Lombok Tengah, H. Lalu Pathul Bahri yang telah berjanji akan melakukan evaluasi terhadap kinerja dan Manajemen RSUD Praya. “Dengan pengalaman tersebut, jika pak Bupati benar akan melakukan evaluasi terhadap manajemen rumah sakit, maka perubahan paling mendasar adalah merubah orang orang yang ada didalamnya, karena rumah sakit tidak hanya pada soal suntik, resep dan beli obat, namun keramahan, kebersihan serta sikap sigap para petugas modal pelayanan yang memberi orang rasa nyaman dan bersahabat ketika menghadapi musibah, keluarga sakit, kecelakaan dan lain lain, apalagi sebagai rumah sakit pemerintah seyogyanya meletakkan makna bisnis itu dibawah daulat bagaimana masyarakat bisa terlayani dan ditolong,” katanya
“Disamping pendekatan perombakan personil, juga tak kalah penting sirkulasi pembidangan kerja kerja pelayanan yang terus memberikan senyum pada orang susah, pilihan bahasa dan perilaku ramah yang memang akan berkonsekuensi pada adanya reward pada tenaga medis maupun non medis yang bekerja didalamnya, audit kapasitas personel baik secara kwalitatif maupun kwantitatif dengan job description yang jelas adalah mutlak dilakukan termasuk time table untuk tenaga tenaga tersebut bekerja sebab pendidikan gratis kesehatan yang murah dan bermutu, hanya ada kedepannya pada tahun 2024. Jika tidak, Wallahualam bissawab, segeralah tangani Muh Maulana agar cukup sampai hari jum’at itu,” sambung Hasan Masat.
Penyakit yang diderita Pasien Maulana kata Hasan Masat, masih bisa disembuhkan, namun proses penyembuhannya membutuhkan waktu yang cukup lama. “Dari komunikasi dengan Dinas Kesehatan ada faktor lain yang juga mempengaruhi kondisi anak tersebut, namun tetap bisa diobati meskipun cukup lama, yang utama sekarang memulihkan gizinya dulu, ungkap salah satu sumber di Dinas Kesehatan Lombok Tengah, demikian juga dengan Dinas Sosial Lombok Tengah, setelah mendapat informasi, menurunkan timnya meskipun hanya memberikan Sembako dan beberapa packet susu,” pungkasnya. [slnews – rul]

Tinggalkan Balasan