DSU : Jakarta Mengirim Sinyal, Ada Potensi Pilkada Serentak Ditunda

DSU : Jakarta Mengirim Sinyal, Ada Potensi Pilkada Serentak Ditunda
Status Facebook Dian Sandi Utama, Kamis (10/9/2020)

SUARALOMBOKNEWS.com – LOMBOK TENGAH | Ketua Komunitas Pemuda Peduli Pemilu dan Demokrasi Nusa Tenggara Barat (KP3D NTB), Dian Sandi Utama menyebut, ada sinyal kuat yang datang dari Ibu Kota Jakarta yang mengarah kepada penundaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak yang akan dilaksanakan pada tanggal, 9 Desember 2020 mendatang.”Jakarta mengirim Sinyal, ada Potensi Pilkada serentak ditunda,”tulis Dian Sandi Utama di status Facebooknya, Kamis, (10/9/2020)
Dihubungi suaralomboknews.com via WhatsApp (WA), pria yang akrab dipanggil DSU itu membenarkan status Facebooknya tersebut.”Ya benar itu status saya di Facebook (Jakarta mengirim sinyal, ada potensi Pilkada serentak 2020 ditunda),”jawabnya
Melalui WhatsApp (WA), DSU menjelaskan bahwa maksud dari statusnya, karena ia melihat Jakarta kembali menerapkan PSBB, dan hal itu disebabkan oleh melonjaknya angka penularan Covid-19 atau Virus Corona yang masuk kondisi Darurat, karena rumah sakit di Jakarta semua penuh.”Sebenarnya status saya itu tidak sebagai ungkapan saya setuju atau tidak jika Pilkada ditunda, tapi jika melihat Jakarta sebagai potret peristiwa selama ini, ada potensi daerah-daerah lain mengikuti,”tulisnya
Menurut DSU, penundaan Pilkada Serentak sangat berat, tetapi pemerintah juga tidak mungkin menutup mata dari kondisi obyektif yang terjadi saat ini. Sebagian besar masyarakat, LSM dan Para pakar sangat khawatir Pilkada justru menjadi Claster baru penyebaran Covid-19.”Saya juga membaca pendapat pakar Epidemiolog dari Griffith University, Pak Dicky Budiman yang mengatakan, idealnya pelaksanaan Pilkada Serentak ditunda, tapi keputusan itu sangat berat. Berat bagi pemerintah tetapi pemerintah juga tidak mungkin menutup mata dari kondisi obyektif yang terjadi saat ini. Sebagian besar masyarakat, LSM dan Para pakar sangat khawatir kalau-kalau Pilkada ini justru menjadi claster baru penyebaran Covid-19 dan potensi itu sangat besar,”sebutnya
“Kita ini tidak punya pilihan, seperti halnya rapat, sekolah atau wisuda yang bisa memanfaatkan teknologi dengan menggunakan sistem daring. Tapi kalau Pemilu, hampir pasti orang-orang akan kumpul (kampanye) belum lagi nanti saat mencoblos. Dan memang soal Pilkada ini harus kita fikirkan kembali, jika pemerintah siap dengan protokol kesehatan Covid-19 yang ketat saya rasa tidak ada masalah tapi jika masih belum siap, Pilkada bukanlah segalanya. Kita semua tentu tidak menginginkan, sesuatu yang kita hajatkan sebagai pesta rakyat (demokrasi) malah berubah menjadi pesta penderitaan,”tutup Dian Sandi Utama [slNews -rul]

No Responses

Tinggalkan Balasan