SHOPPING CART

close

Rakyat Dijanjikan Surga, Yang Datang Justru Neraka Sosial

Opini Sekum HMI MPO Cabang Mataram
Sekum HMI MPO Cabang Mataram, NTB, ADITIA SAPUTRA.

Rakyat Dijanjikan Surga, Yang Datang Justru Neraka Sosial

Oleh : ADITIA SAPUTRA, Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam – Majelis Penyelamat Organisasi ( HMI MPO) Cabang Mataram, NTB.

KEKUASAAN selalu pandai menciptakan harapan. Di awal kepemimpinan, rakyat disuguhi janji surga yang terdengar megah. “NTB Makmur Mendunia” dijadikan slogan utama pemerintahan. Narasinya besar, ambisinya tinggi, dan pidatonya terdengar meyakinkan. Tetapi setelah lebih dari satu tahun berjalan, rakyat mulai sadar bahwa slogan ternyata jauh lebih cepat tumbuh dibanding kesejahteraan masyarakat.

Hari ini rakyat masih hidup dengan persoalan yang sama. Jalan rusak masih menghiasi banyak wilayah, Harga kebutuhan pokok terus menekan masyarakat kecil, Lapangan pekerjaan tetap sempit, Anak muda dipaksa bersaing dalam situasi ekonomi yang semakin keras, sementara pemerintah terlihat lebih sibuk membangun optimisme dari pada menghadirkan hasil nyata.

Ironinya, pemerintah terus berbicara seolah Nusa Tenggara Barat (NTB), sedang baik-baik saja, Padahal data menunjukkan kenyataan yang berbeda. 

“NTB masih menjadi salah satu provinsi dengan angka kemiskinan tertinggi di Indonesia. Pemerintah sendiri mengakui sekitar 720 ribu masyarakat NTB masih hidup dalam kemiskinan.”

Angka itu bukan sekadar statistik, Di balik angka itu ada rakyat yang harus menahan lapar, anak muda yang kehilangan harapan kerja, petani yang terus dihimpit biaya produksi, dan keluarga kecil yang setiap hari bertarung melawan keadaan hidup yang semakin berat. Lalu apa yang sudah benar-benar berubah selama satu tahun lebih pemerintahan ini berjalan?

Pertanyaan itu semakin relevan ketika publik melihat pemerintah lebih aktif membangun citra dibanding menyelesaikan masalah mendasar rakyat. Media sosial penuh dengan kegiatan seremonial, pidato optimisme, dan pencitraan keberhasilan. Tetapi di lapangan, masyarakat masih berkutat dengan persoalan lama yang tak kunjung selesai.

Yang lebih menyakitkan, di tengah janji pengentasan kemiskinan, “ratusan tenaga honorer justru kehilangan pekerjaan. Sebanyak 518 honorer Pemprov NTB diputus kontraknya dan berubah menjadi pengangguran baru.”

Ini bukan sekadar kebijakan administratif, Ini adalah ironi kekuasaan. Pemerintah berbicara tentang membuka masa depan, tetapi pada saat yang sama rakyat justru kehilangan kepastian hidupnya.

Di sinilah publik mulai melihat adanya jurang besar antara pidato dan kenyataan. Pemerintah tampak terlalu menikmati panggung pencitraan, sementara rakyat dibiarkan menghadapi kesulitan hidup sendirian.

Rakyat tentu tidak menuntut keajaiban dalam waktu singkat. Tetapi rakyat berhak melihat arah perubahan yang nyata. Satu tahun lebih seharusnya cukup untuk menunjukkan bahwa pemerintah benar-benar bekerja untuk masyarakat, bukan sekadar bekerja untuk mempertahankan popularitas politik.

Masalahnya, pemerintah hari ini terlihat lebih sensitif terhadap kritik citra dibanding kritik penderitaan rakyat. Ketika masyarakat mulai kecewa, pemerintah justru sibuk membangun narasi pembelaan diri. Seolah kritik dianggap ancaman, padahal kritik lahir karena rakyat masih memiliki harapan.

Dan sejarah selalu menunjukkan bahwa kekuasaan mulai bermasalah ketika ia terlalu sibuk merawat wajahnya sendiri. Rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai berbicara di podium. Rakyat membutuhkan pemimpin yang mampu menghadirkan keberpihakan nyata. Sebab rakyat tidak bisa membeli beras dengan slogan. 

Rakyat tidak bisa membayar kebutuhan hidup dengan konferensi pers. Dan rakyat tidak akan kenyang hanya karena mendengar kata “perubahan” setiap hari. Hari ini masyarakat NTB mulai lelah dengan politik pencitraan. 

Publik semakin sadar bahwa kemasan pidato tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas kerja. Di tengah kesulitan hidup yang terus menghimpit, masyarakat membutuhkan tindakan nyata, bukan produksi harapan tanpa ujung.

Kalau pemerintah terus sibuk menjual optimisme tanpa hasil yang jelas, maka perlahan kepercayaan publik akan runtuh dengan sendirinya. Sebab sekuat apapun slogan dibangun, rakyat tetap akan menilai dari satu hal paling sederhana, apakah hidup rakyat berubah seperti dijanjikan surga atau yang datang malah kehidupan di neraka!

Sampai hari ini, terlalu banyak masyarakat NTB yang masih merasa bahwa mereka hanya dijadikan penonton dalam panggung besar kekuasaannya Lalu Muhammad Iqbal & Umi Dinda!.

Tags:

0 thoughts on “Rakyat Dijanjikan Surga, Yang Datang Justru Neraka Sosial

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

KATEGORI

Mei 2026
M S S R K J S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

STATISTIK