SPPG Di Lombok Tengah Sajikan Menu MBG Busuk Dan Basi, Mitra Ngaku Ahli Gizi Sudah Minta Maaf, Kepala SPPG Ngancam Bawa Ke Ranah Hukum

SUARALOMBOKNEWS | Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan dan disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pengembur di Desa Pengembur, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang bernaung dibawah Yayasan Daruttahirin ditolak oleh siswa penerima manfaat yang ada di SMPN 6 Pujut dan SDN Jelateng.
Siswa penerima manfaat menolak memakan menu MBG untuk dua hari yang disalurkan SPPG Pengembur pada Sabtu, 7 Maret 2026 itu dikarenakan buah Salak sudah busuk dan Tahu yang Basi.
Informasi yang dihimpun suaralomboknews.com, karena siswa penolak mengkonsumsi menu MBG tersebut, pihak SMPN 6 Pujut dan SDN Jelateng mengembalikan ratusan porsi menu MBG tersebut kepada pihak SPPG Pengembur.
Kepala SPPG Pengembur Jani Utama Putra yang dihubungi suaralomboknews.com melalui pesan WhatsApp (WA), terkait dengan penolakan menu MBG oleh pihak SMPN 6 Pujut dan SDN Jelateng untuk dua hari dan dikembalikan karena buah yang busuk dan tahu yang sudah basi, pada Senin, (9/3/2026), justru balik bertanya terkait dengan siapa pihak yang melapor dan mengancam akan menempuh jalur hukum.” Izin bang kata2 diatas narasi2yang salah. Itu udh jelas masuk pencaran nama baik, izin. Izin bertanya siapa yg melapor ? Saya akan bawa ke ranah hukum, izin,” ancam Jani Utama Putra.
Jani mengatakan bahwa, menu MBG yang dipersoalkan tersebut bukan jatah untuk dua hari, melainkan jatah untuk satu hari.
Jani juga membantah menu MBG yang disalurkan tersebut dalam keadaan rusak.” Itu menu utk 1 hari. Kemudian, tidak ada makanan yg basi, seblmny saya terjun ke lapangan untuk mengecek,” bantahnya
Ditanya terkait dengan apakah menu dan jumlah menu sudah sesuai dengan standar gizi dan apakah buah salak dan tahu yang disajikan sudah sesuai dengan standar gizi, dan apa sikap pihak SPPG terhadap menu MBG yang dikembalikan oleh pihak sekolah, Jani mengaku dirinya telah bertanya langsung kepada Kepala Sekolah SMPN 6 Pujut dan mendapatkan jawaban bahwa ada yang membisiki untuk membuat pertanyaan bohong.” Dan ternyata setelah kami tanya kepala sekolah smpn 6 pujut, jawaban beliau ada yg bisik2 utk membuat pertannyaan kebohongan,” sebutnya
Terkait dengan menu MBG yang dikembalikan oleh pihak sekolah, Jani menegaskan bahwa, dirinya berencana akan meminta kepada pihak sekolah untuk membuat klarifikasi. “Izin besok saya berencana utk meminta pihak sekolah utk membuat kelarifikasi,” tuturnya
Melalui WA, Jani mengirim bukti video dan foto saat turun kelapangan dan bertemu warga yang ada di lingkungan sekolah.”Ini salah satu video, kebetulan waktu kami survey lapangan, kami bertemu dengan ibu2 di sekolah tersebut dan kami menawarkan dengan suka rela menjelaskan kondisi makann. Ini bukti makanan yg ditolak, kami melakukan pemgalihan penerima ke keluarga yg kurang mampu, dan diterima dengan sangat baik, krn memng betul makanan tersebut masih kondisi baik dan seger,” ujarnya.
Sementara itu melalui pesan WA, Senin, (9/3/2026) Mitra SPPG Pengembur, Purnawirawan mengaku bahwa ada menu MBG yang dikembalikan ke SPPG oleh pihak sekolah dan pihaknya langsung berdiskusi dengan SPPI Gizi, Akuntan dan semua koordinator termasuk para relawan agar tidak membuat menu seperti yang disalurkan pada Sabtu, (7/3/2026). “Betul ada yg di kembalikan. Lasung saya diskusi tadi malam dgn sppi gizi akutan dan semua kordinator agar tdk mengulang buat menu sepertibkemarin,” ungkapnya
Melalui sambungan panggilan WA, Purnawirawan juga mengaku, dirinya mengetahui ada menu MBG yang ditolak oleh siswa penerima manfaat setelah dirinya menghubungi pihak sekolah melalui sambungan Telepon.” Menu sudah melalui proses sortir. Namanya tahu bakso kalau dibungkus dalam keadaan panas, pasti terlihat berlendir. Lalu ada yang menolak, saya telepon salah satu guru dan menyampaikan dasar menolak,” ucapnya
Pasca menu MBG ditolak dan dikembalikan oleh pihak sekolah, selaku Mitra, Purnawirawan langsung melakukan pertemuan untuk melakukan evaluasi dengan semua pihak yang terkait.” Tadi malam kita kumpulkan semuanya, termasuk dengan para relawan untuk melakukan evaluasi supaya kedepan lebih baik. Dan ahli Gizinya sudah minta maaf. Dan itu jatah untuk satu hari, bukan untuk dua hari. Yang katanya rusak sudah diganti tadi (Senin,9/3),” tuturnya
Dari hasil Evaluasi, lanjut Purnawirawan, pihak SPPG akan melakukan pengemasan menu MBG dengan lebih baik, sehingga persoalan serupa tidak terulang kembali. “Hasil evaluasi pengemasan kita lebih baik. Kemarin itu, makanan kering dan basah tidak dibungkus terpisah, sehingga ada buah salak yang terlihat rusak, padahal buah salak itu masih bagus. Dan solusinya sudah ada, semuanya bahan baku yang berbeda dibungkus rapi dan ada pemisah atau sekat,” ungkapnya
Terkait dengan berapa jumlah porsi menu MBG yang dikembalikan oleh pihak Sekolah, Purnawirawan mengaku jumlah porsi menu MBG yang dikembalikan kurang dari 100 porsi, dan menu MBG yang ditolak tersebut telah diganti dan telah diterima oleh siswa penerima manfaat.” Yang dikembalikan dari SMPN 6 Pujut dan SDN Jelateng jumlahnya sedikit kurang dari seratus. Dan memang menu yang disalurkan itu, kalau disimpan terlalu lama pasti rusak, sehingga lebih baik dikembalikan dan sudah diganti, tadi yang semestinya menerima satu porsi menjadi dua porsi. Ahli gizi sudah minta maaf dan relawan juga sudah diskusi tadi malam dan tidak akan mengulangi lagi dan setiap Minggu kita lakukan diskusi untuk melakukan evaluasi. Kami juga terus melakukan sosialisasi ke sekolah sekolah, kami sangat terbuka untuk dikoreksi untuk kebaikan bersama,”ujarnya. [SLNews – rul].

Tinggalkan Balasan