Jembatan Pantai Seger Tak Terurus, Pemerintah Dinilai Lupa Dengan Tradisi Bau Nyale

LOMBOK TENGAH | Di setiap tanggal 20, bulan 10, penanggalan Suku Sasak, masyarakat Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), merayakan tradisi Bau Nyale atau menangkap cacing laut.
Bau Nyale merupakan tradisi turun temurun. Dalam tradisi ini, ribuan orang menangkap cacing laut di sepanjang pantai selatan Lombok Tengah.
Di Tahun 2022 ini, masyarakat bersama Pemkab Lombok Tengah telah memutuskan acara puncak perayaan Tradisi Bau Nyale jatuh pada tanggal 20-21 Februari 2022. Namun, kondisi menjelang perayaan Tradisi Bau Nyale 2022 sangat berbeda jauh dengan tahun – tahun sebelumnya. Dimana di tahun 2022 ini, tidak ada kegiatan apapun yang nampak ditengah – tengah masyarakat menjelang Perayaan Tradisi Bau Nyale yang juga telah ditetapkan sebagai event Nasional oleh Pemerintah Pusat. “ Mungkin Pemkab Lombok Tengah lupa hari dan tanggal Perayaan Tradisi Bau Nyale. Mungkin juga Pemkab Lombok Tengah lupa dimana lokasi perayaan Tradisi Bau Nyale dan mungkin juga Pemkab Lombok Tengah sudah lupa dengan tradisi Bau Nyale,” sebut Ketua Forum Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Alus Darmiah, Sabtu, (12/2/2022).
Biasanya ungkap Alus, setelah acara penetapan hari, tanggal dan bulan Bau Nyale, berbagai kegiatan dilakukan oleh Pemerintah Daerah, Pemerintah Provinsi maupun oleh Pemerintah Pusat, mulai dari promosi pariwisata melalui Event Bau Nyale, Atraksi Seni, Budaya, Parade Budaya hingga persiapan lokasi pelaksanaan Tradisi Bau Nyale di Pantai Seger, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. “ Tetapi sekarang, tidak terlihat dan terdengar lagi gaung Tradisi Bau Nyale. Semuanya sibuk untuk mensukseskan motoGP, Baliho, bener – bener yang dulunya dipenuhi tentang Tradisi Bau Nyale, sekarang ini penuh dengan event MotoGP, bahkan Jembatan Seger yang ada di Pantai Seger kondisinya tidak terurus, tidak diperhatikan lagi, dan sampai dengan menjelang pelaksanaan Tradisi Bau Nyale Jembatan Seger belum juga diperbaiki,” ungkapnya
“ Ingat, adanya event – event Internasional termasuk event MotoGP di Sirkuit Mandalika dan di KEK The Mandalika, dulunya karena ada Event Bau Nyale yang memikat masyarakat Internasional datang berkunjung ke Lombok. Untuk itu jangan hanya terlena dengan event MotoGP saja, lalu mau melupakan Tradisi Bau Nyale,” sambung Alus
Cacing laut ini dikenal dengan sebutan nyale, yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika. Mandalika dikenal sebagai putri cantik yang memilih menceburkan diri ke laut lepas, menghindari peperangan antara pangeran yang memperebutkan dirinya. “ Jadi Bau Nyale ini tidak hanya sekedar tradisi turun – temurun saja, tetapi memiliki makna yang sangat luas dalam kehidupan. Kami rela, ikhlas dan ikut berkorban mensukseskan seluruh program pembangunan di KEK The Mandalika, termasuk mensukseskan semua event yang ada di Sirkuit Mandalika termasuk event MotoGP demi kesejahteraan dan bangkitnya perekonomian masyarakat. Untuk itu kami juga memohon kepada pemerintah jangan lupakan Tradisi Bau Nyale,” ujar Alus Darmiah.
Jembatan Pantai Seger terletak di belakang Sirkuit Mandalika, dan Jembatan Pantai Seger merupakan jembatan penghubung antara kawasan pantai yang ada di Hotel Novotel Kuta Lombok Tengah kawasan Pantai Seger.
Saat perayaan Tradisi Bau Nyale, Jembatan Seger ramai dilintasi oleh masyarakat dan wisatawan yang datang untuk menyaksikan perayaan Tradisi Bau Nyale dan menangkap Cacing Laut. [slnews – rul]

Tinggalkan Balasan