Pasca Siswa SD Keracunan, SPPG Janapria Bakan di Suspend, KASTA NTB DPD Lombok Tengah Desak BGN Tutup Permanen

SUARALOMBOKNEWS | Pasca delapan siswa SDN 2 Bakan, Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), diduga mengalami keracunan setelah mengkonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lombok Tengah Janapria-Bakan untuk sementara diberhentikan atau di Suspend.
Peristiwa yang terjadi pada Selasa (22/9/2026) tersebut mendapat sorotan dari KASTA NTB DPD Lombok Tengah.
Ketua KASTA NTB DPD Lombok Tengah, Khairul Fikri, mendesak pemerintah dan Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil tindakan tegas dengan menghentikan secara permanen operasional SPPG Lombok Tengah Janapria-Bakan.
Menurut Fikri, SPPG tersebut sebelumnya disebut telah dua kali mendapatkan sanksi suspend. Pertama, terkait temuan ulat pada buah yang disalurkan kepada penerima manfaat dan kedua terkait persoalan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).“Kami sangat prihatin. Program MBG ini program mulia Presiden untuk anak bangsa, tapi jika pelaksanaannya justru membuat anak-anak kita muntah-muntah, pusing dan diare, ini kelalaian yang tidak bisa ditolerir,” tegas Fikri, Selasa (22/9/2026).
Fikri meminta BGN melakukan evaluasi menyeluruh terhadap SPPG Lombok Tengah Janapria-Bakan dan mempertimbangkan penghentian permanen apabila hasil pemeriksaan membuktikan adanya pelanggaran.“Keselamatan anak adalah hukum tertinggi. Untuk itu, kami minta kepada BGN untuk menutup operasional SPPG Bakan secara permanen, karena sudah tiga kali disuspend, pertama kasus ulat dalam buah, kedua soal IPAL dan sekarang siswa SD yang keracunan,” ujarnya.
Fikri juga menilai kejadian di Janapria-Bakan menambah persoalan dalam pelaksanaan program MBG di Lombok Tengah.
Fikri menyebut sebelumnya terdapat laporan siswa mengalami keracunan di wilayah Batukliang dan Kopang setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang berkaitan dengan program MBG.
KASTA NTB, kata Fikri, menduga terdapat persoalan dalam penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang perlu ditelusuri secara menyeluruh.
Fikri juga merujuk pada temuan Ombudsman NTB dalam kasus sebelumnya yang, menurutnya, berkaitan dengan tata kelola penyimpanan bahan baku, pengendalian suhu daging ayam serta distribusi susu.“Kami menduga pola yang sama terjadi di SPPG Lombok Tengah Janapria-Bakan. Ini bukan lagi human error, tapi sistemik,” katanya.
Atas kejadian tersebut, KASTA NTB Lombok Tengah menyampaikan sejumlah tuntutan.
Pertama, mendesak Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Dinas Kesehatan, BPOM Mataram dan aparat penegak hukum untuk melakukan pemeriksaan serta audit menyeluruh terhadap SPPG Lombok Tengah Janapria-Bakan.
Kedua, meminta Satgas MBG Kabupaten dan Provinsi NTB membuka hasil pemeriksaan laboratorium BPOM kepada publik secara transparan serta memberikan sanksi sesuai ketentuan apabila ditemukan pelanggaran.
Ketiga, KASTA meminta biaya pengobatan siswa yang menjadi korban ditanggung oleh pihak yang bertanggung jawab dan tidak dibebankan kepada orang tua siswa.“Kami minta jangan ada yang ditutup-tutupi. Jangan korbankan kesehatan anak-anak kami demi mengejar target distribusi dan keuntungan bisnis semata. KASTA akan membuka posko pengaduan bagi wali murid dan akan mengawal kasus ini sampai tuntas, termasuk jika harus kami laporkan ke Ombudsman dan APH,” pungkas Fikri.
SPPG Lombok Tengah Janapria Bakan Sudah Disuspend.
Sementara itu, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Lombok, Muhammad Ihsan, melalui pesan WhatsApp, Selasa (22/9/2026), membenarkan bahwa operasional SPPG Janapria-Bakan telah diberhentikan sementara.
Menurut Ihsan, pihaknya masih melakukan koordinasi dengan Kanreg dan pimpinan KPPG Denpasar terkait tindak lanjut terhadap status SPPG tersebut.“Saat ini kami masih berkoordinasi dengan Kanreg dan pimpinan di KPPG Denpasar. Status SPPG Janapria-Bakan saat ini sudah diberhentikan sementara atau disuspend,” jelasnya.
Sementara itu, melalui pesan WA, Selasa, (22/9/2026), Kepala SPPI SPPG Lombok Tengah Janapria Bakan, Abdullah Supriadi, menyampaikan bahwa terdapat delapan siswa yang mengalami sakit perut dan telah dibawa ke Puskesmas Langko.“Yang terdampak 8 anak yang mengalami sakit perut dibawa ke Puskesmas. Alhamdulillah sekarang sudah pulang semua,” kata Abdullah.
Ia menyampaikan kondisi para siswa tersebut saat ini disebut sudah membaik. [SLNews – rul].

Tinggalkan Balasan