Gelar KKN-PMM 2025 di Desa Penujak, 20 Mahasiswa Unram Dorong Inovasi Gerabah Tradisional Suku Sasak Jadi Mendunia

SUARALOMBOKNEWS | Sebuah geliat baru terasa di Sentra Industri Gerabah Tradisional Suku Sasak di Desa Penujak, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), melalui sentuhan kegiatan Kuliah Kerja Nyata-Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (KKN-PMM) yang dilaksanakan oleh 20 orang mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu Universitas Mataram (Unram).
Melalui kegiatan KKN – PMM Unram di Sentra Industri Gerabah Tradisional Suku Sasak di Desa Penujak tersebut, menjadi penyemangat Inovasi, Edukasi, dan pelestarian budaya lokal.
Kegiatan KKN – PMM Unram di Sentra Industri Gerabah Tradisional Suku Sasak di Desa Penujak mengusung tema “Green Technology dan Regenerasi Industri Kreatif Sasak”.
Kegiatan ini melibatkan dua mitra utama yakni Kelompok Yulia Pottery yang dipimpin oleh Amran di Dusun Tenandon, serta Sasak Pottery Dua Sekawan di bawah komando Haji Mustakin di Dusun Tongkek, Desa Penujak.
Mereka menjadi mitra strategis dalam mengakselerasi transformasi industri gerabah lokal ke arah yang lebih modern, ramah lingkungan, dan berbasis teknologi tepat guna.
Kegiatan itu dipimpin langsung oleh tim akademisi lintas kampus, Dr. Saprini Hamdiani (FMIPA UNRAM) sebagai Ketua Tim, Prof. Saprizal Hadisaputra (FKIP UNRAM), dan Dr. Pahrudin dari Universitas Hamzanwadi.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Kemdiktisaintek melalui Hibah PMM Tahun 2025.
Dalam durasi dua bulan penuh, dari Juli hingga akhir Agustus 2025, mahasiswa turun langsung ke lapangan membawa misi transformasi gerabah tradisional menuju industri kreatif berdaya saing tinggi.
Salah satu inovasi utama yang diperkenalkan adalah pemanfaatan limbah abu pembakaran sebagai campuran bahan dasar pembuatan gerabah, bagian dari konsep green technology yang disosialisasikan kepada para pengrajin. Teknologi ini bukan hanya ramah lingkungan, tetapi juga memperkuat kualitas bahan dan mengurangi biaya produksi.
Selain itu, mahasiswa juga merancang dan menyerahkan berbagai alat bantu produksi inovatif seperti alat putar gerabah otomatis, alat semprot (compressor spray gun) hasil desain mahasiswa, hingga gerobak dorong argo untuk distribusi.
Serah terima alat produksi dilaksanakan pada Rabu, 6 Agustus 2025 lalu di Dusun Tongkek, yang dihadiri oleh Kepala Desa Penujak Lalu Suharto,, perwakilan LPPM Universitas Mataram, tim pengabdian, serta para pengrajin, dan kegiatan tersebut disambut antusias oleh masyarakat setempat.
Tak hanya fokus pada produksi, kegiatan ini juga menyentuh aspek edukasi dan regenerasi. Melalui program Pottery Intensive Class, mahasiswa mengajak anak-anak dan remaja setempat untuk mengenal seni gerabah secara langsung. Berbagai games edukatif dan sistem reward disiapkan untuk memicu semangat dan kreativitas generasi muda, agar kelak dapat menjadi pelanjut industri kerajinan khas ini.
Puncak kegiatan ditandai dengan pelaksanaan Gerabah Art Festival pada 14 Agustus 2025.
Festival ini menjadi ajang unjuk kreasi dan bakat para pengrajin dan anak-anak Desa Penujak. Ada lomba melukis gerabah untuk anak-anak, serta kompetisi desain gerabah terbaik untuk para pengrajin. Berbagai doorprize menarik disiapkan untuk peserta yang memenangkan kompetisi, serta panggung ekspresi seni lokal.
Sebagai langkah memperluas pasar, para pengrajin juga diberikan pelatihan digital marketing dan multimedia oleh mahasiswa. Dengan bimbingan intensif, pelaku usaha gerabah diajarkan cara memotret produk secara profesional, membuat konten promosi, hingga membuka toko daring agar produk mereka dapat dikenal hingga pasar internasional.
Dengan semangat gotong royong, inovasi, dan pelestarian budaya, kegiatan KKN-PMM Desa Penujak 2025 menjadi tonggak penting dalam menjadikan gerabah Sasak sebagai warisan budaya yang adaptif terhadap zaman.
Inilah kolaborasi nyata antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah dalam mendorong Local Wisdom Goes Global. [SLNews – ***].

Tinggalkan Balasan