SHOPPING CART

close

Paskibraka Lombok Tengah Bukan Sekadar Pengibar Bendera, Hak Belajar Siswa Tetap Harus Dipenuhi

Anggota Paskibraka Lombok Tengah 2026 Belajar ke AAL Surabaya
Foto bersama Wakil Bupati Lombok Tengah, Dr. HM. Nursiah dengan jajaran AAL Surabaya, para Pelatih, Pamong dan Anggota Paskibraka Lombok Tengah 2026 di AAL Surabaya, Jawa Timur.

SUARALOMBOKNEWS | Menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) memang sebuah kehormatan. Namun, di balik seragam, latihan baris-berbaris dan tugas mengibarkan Sang Merah Putih pada Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2026, terdapat hak pendidikan siswa yang tidak boleh terabaikan.

Hal itu menjadi perhatian Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Murdi AP., M.Si. 

Menurut Murdi, siswa yang terpilih menjadi Paskibraka menjalani proses pembinaan cukup panjang hingga harus meninggalkan aktivitas belajar di sekolah untuk mengikuti latihan dan pembinaan secara terpusat.

Karena itu, kata Murdi, proses pembinaan Paskibraka harus sekaligus menjadi proses pendidikan. Waktu yang mereka korbankan dari bangku sekolah tidak boleh berlalu begitu saja tanpa mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna. “Menjadi anggota Paskibraka bukan sekadar kehormatan untuk berdiri di tengah lapangan dan mengibarkan Sang Merah Putih. Mereka juga memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan,” kata Murdi, Rabu, (2/0/2026).

Murdi menjelaskan, Paskibraka tidak cukup hanya dibentuk menjadi generasi yang disiplin menjalankan komando. Mereka juga harus memiliki wawasan kebangsaan, kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, karakter, kemampuan bekerja sama dan kesadaran terhadap tanggung jawab sebagai anak bangsa.

Atas dasar itu, Learning Experience menjadi bagian dari pembinaan Paskibraka Kabupaten Lombok Tengah. Program tersebut memberikan ruang kepada peserta untuk belajar melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui teori di ruang kelas. Melalui metode Mission Quiz, anggota Paskibraka diberikan sejumlah misi untuk mengamati, mencari informasi, berdiskusi, berinteraksi dengan lingkungan pembelajaran dan menemukan sendiri jawaban atas berbagai persoalan kebangsaan.

Salah satu pengalaman tersebut mereka dapatkan ketika mengikuti kegiatan pembelajaran di lingkungan Akademi Angkatan Laut (AAL) Bumi Moro, Surabaya, Jawa Timur beberapa waktu lalu.

Di sana, para peserta tidak hanya melihat kehidupan taruna, tetapi juga belajar bagaimana anak-anak muda dari berbagai daerah dengan latar belakang berbeda dapat hidup, belajar dan berlatih dalam satu sistem.

Dari pengalaman tersebut, mereka diajak memahami bahwa keberagaman Indonesia bukan alasan untuk terpecah.

Justru perbedaan harus menjadi kekuatan yang disatukan oleh persatuan dan Pancasila. Para peserta juga diajak memahami posisi laut dalam kehidupan Indonesia sebagai negara kepulauan.

Laut tidak hanya dipandang sebagai pemisah antar pulau, tetapi sebagai penghubung Nusantara yang berkaitan dengan konektivitas, ekonomi, budaya, pertahanan dan kedaulatan bangsa.

Menurut Murdi, pengalaman tersebut juga memiliki relevansi dengan tantangan generasi muda saat ini. Ancaman terhadap persatuan tidak selalu berupa konflik fisik. Di era digital, hoax, provokasi, intoleransi, ujaran kebencian dan konten bernuansa SARA dapat menjadi ancaman terhadap persatuan bangsa.

Karena itu, anggota Paskibraka harus dibekali kemampuan untuk berpikir sebelum bertindak dan menyaring informasi sebelum menyebarkannya. “Paskibraka tidak cukup hanya dilatih agar siap menjalankan komando. Mereka juga harus mampu berpikir kritis, mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas pilihannya,” ucap Murdi.

Murdi menegaskan, keberhasilan pembinaan Paskibraka Lombok Tengah tidak semata-mata diukur dari kesempurnaan pelaksanaan upacara atau keberhasilan mengibarkan bendera.

Lebih penting dari itu adalah perubahan karakter setelah seluruh proses pembinaan selesai.

Anggota Paskibraka diharapkan menjadi generasi muda yang lebih disiplin, percaya diri, mampu memimpin, menghargai perbedaan, kritis terhadap informasi, mencintai Indonesia dan siap mengambil peran dalam menjaga masa depan bangsa. “Melalui Learning Experience dan Mission Quiz, setiap waktu yang mereka korbankan dari bangku sekolah diupayakan tetap menjadi waktu untuk belajar. Belajar dari lingkungan, pengalaman, perbedaan dan belajar memahami Indonesia,” kata Murdi

Dengan demikian, Paskibraka tidak semestinya dipandang hanya sebagai petugas upacara.

Paskibraka merupakan bagian dari proses pendidikan karakter dan kepemimpinan generasi muda. Sebuah proses untuk memahami bahwa di balik Sang Merah Putih terdapat nilai persatuan, tanggung jawab dan masa depan bangsa yang harus dijaga bersama. [SLNews – rul].

Tags:

0 thoughts on “Paskibraka Lombok Tengah Bukan Sekadar Pengibar Bendera, Hak Belajar Siswa Tetap Harus Dipenuhi

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

KATEGORI

September 2026
M S S R K J S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

STATISTIK