Strategi Pengembangan Usaha Kain Tenun Untuk Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Desa Pringgasela Selatan

Strategi Pengembangan Usaha Kain Tenun Untuk Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Desa Pringgasela Selatan
Oleh : Chalida Alfany
Mahasiswa KKN Unram
Indonesia merupakan negara yang terkenal akan keragaman budayanya. Salah satunya yaitu kain tenun tradisional. Kain tenun merupakan kain yang dibuat dari benang (sutera, kapas dan sebagainya) yang dibuat dengan menggunakan alat yang disebut gedog. Kain tenun yang dihasilkan pun memiliki variasi yang sangat luas dengan motif khas yang mencerminkan daerah lingkungan asalnya. Kain tenun yang dihasilkan pun memiliki variasi yang sangat luas dengan motif khas yang mencerminkan daerah lingkungan asalnya. Beberapa jenis kain tenun yang ada di Indonesia yaitu kain endek dan geringsing dari Bali, kain hinggi dari Sumba, kain buna dari Timor, serta kain songket dan rangrang dari Lombok. Salah satu daerah penghasil kain tenun yang ada di Lombok Timur yakni Desa Pringgasela Selatan, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Mayoritas masyarakat di Desa Pringgasela Selatan berprofesi sebagai pengrajin tenun. Pringgasela merupakan desa yang kaya akan sumber daya yang cukup bagus untuk dikembangkan, terutama sumber daya tenun Gedongan. Tenun Gedongan merupakan warisan turun temurun yang terus dikembangkan sampai saat ini. Hal ini disebabkan karena kondisi masyarakat yang sampai saat ini masih tetap mempertahankan warisan budaya sebagai baktinya kepada nenek moyang mereka. Selain sebagai warisan budaya, tenun Gedongan juga merupakan sumber mata pencaharian masyarakat Desa Pringgasela khususnya Desa Pringgasela Selatan. Dusun Gubuk Lauk merupakan salah satu dusun penghasil tenun terbesar di Desa Pringgasela Selatan. Salah satu komunitas tenun yang ada di Dusun Gubuk Lauk adalah komunitas Nina Penenun dengan jumlah anggota sebanyak 350 orang. “Tujuan dibentuknya Nina Penenun yaitu sebagai wadah bagi penenun di Desa Pringgasela Selatan untuk mencurahkan segala keluh kesah yang dialami” ujar Sri selaku ketua komunitas Nina Penenun. Kain tenun yang dihasilkan oleh komunitas ini memiliki motif yang unik dan khas. Salah satunya yaitu benang lima atau simbut abang. Kain ini disebut benang lima karena memakai lima warna dalam proses pembuatannya.
Kain tenun yang dihasilkan oleh masyarakat biasanya dipromosikan dari mulut ke mulut atau sesekali mengikuti pameran di taman budaya atau yang diselenggarakan oleh dinas. Kurangnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya penggunaan sosial media sebagai media pemasaran mengakibatkan jangkauan pemasaran menjadi terbatas. Lancarnya penjualan malah semakin membuat pengurus kewalahan untuk mengurus produk tenun dari anggota. Anggota menyerahkan hasil tenunan mereka ke pengurus. Karena tidak memiliki tempat untuk menaruh hasil tenunan anggota maka pengurus mengambil langsung ke rumah-rumah anggota jika ada yang memesan atau membeli.
Adapun tujuan dilaksanakannya pengabdian ini yaitu untuk memberi pengetahuan kepada para penenun mengenai teknologi yang ada dalam dunia pemasaran (marketing) dengan melalui sosial media seperti instagram, shopee, dan tokopedia. serta memudahkan penenun dalam memasarkan produknya secara lebih meluas. Dalam pelaksanaanya, kegiatan pengabdian ini dilakukan atas dasar inisiatif mahasiswa KKN Tematik Universitas Mataram di Desa Pringgasela Selatan dalam membantu pengembangan usaha produk masyarakat setempat.
Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan pada hari senin , 07 Februari 2022 yang bertempat di halaman rumah komunitas Nina Penenun. Kegiatan sosialisasi hanya dilakukan oleh mahasiswa KKN Universitas Mataram kepada ketua komunitas Nina Penenun. Luaran dari kegiatan sosialisasi ini yaitu untuk memperkenalkan teknologi yang ada serta memberikan pelatihan mengenai cara pengelolaan akun media sosial dan toko online (shopee dan tokopedia) untuk kepentingan penjualan digital. [slnews]

Tinggalkan Balasan