Proyek Perluasan Apron LIA Memanas, Warga Lingkar Bandara Nyaris Baku Hantam

Proyek Perluasan Apron LIA Memanas, Warga Lingkar Bandara Nyaris Baku Hantam

SUARALOMBOKNEWS.COM – LOMBOK TENGAH | Puluhan warga dari Lingkar Lombok Internasional Airport (LIA) di Desa Tanak Awu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Nyaris saling baku hantam, di depan Tol Gete LIA, Sabtu (2/6/2018).

Hal itu dipicu karena sikap dari Kontraktor Pemenang Tender Perluasan Apron LIA PT. GPS yang diduga mempermainkan nasib warga Lingkar Bandara yang mencari napkah melalui jasa Penjualan dan Pengangkutan Material timbunan Perluasan Apron LIA.” Awalnya kami diberikan ijin mengangkut Matrial Tanah Uruk, setelah kami menyewa lahan dan Alat Berat, tiba – tiba secara sepihak kami tidak diijinkan lagi mengangkut Tanak Uruk, tetapi di waktu yang sama  ada teman kami yang lain justru  diberikan ijin mengangkut Matrial Sertu, itu artinya Perusahaan secara tidak langsung mau mengadu domba kami selaku warga Lingkar Bandara,” kesal H. Rais warga Desa Ketare, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.

Ketegangan warga Lingkar Bandara LIA kian memanas, setelah sejumlah warga yang tadinya mengakut material Tanah Uruk menghadang Dum truk pengangkut Material Sertu di depan Tol Gete LIA, dan Dum Truk pengangkut Material Sertu itu dipaksa untuk tidak mendrop Material ke lokasi proyek pembangunan Perluasan Apron LIA.  Akibat  penghadangan Dum Truk Penangkut Material Sertu itu, arus Kendaraan yang keluar masuk LIA sempat terganggu.

Emosi warga Lingkar bandara berhasil didinginkan setelah aparat Kepolisian dari Pospol  KP3 LIA dan Polsek Pujut  turun tangan dan memberikan pemahaman kepada warga.” Ini hannya salah paham saja,  nanti akan diselesaikan dengan cara bermusyawarah antara warga dan pihak perusahaan,” ujar Kapospol KP3 LIA Iptu. Sulyadi.

Akibat sikap dari pihak Perusahaan yang oleh warga dinilai tidak konsisten itu, warga Lingkar Bandara LIA yang sehari – hari bekerja sebagai Sopir Dum Truk dan pemasok Material Tanah Uruk maupun Material Sertu mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.” Warga hannya ingin mencari sesuap nasi, jangan dipermainkan seperti ini, dikasih angkut Material sehari, tetapi libur tiga minggu, kalau seperti ini kondisinya warga bisa rugi, karena sehari saja tidak menangkut Material, mereka harus mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk biaya sewa Alat Berat,” tambah Kepala Desa (Kades) Ketare Lalu Buntaran.

Lalu Buntaran menilai, PT. GPS tidak layak  diberikan kepercayaan untuk  mengerjakan Proyek Perluasan Apron LIA.

Untuk itu Lalu Buntaran meminta kepada pihak pemeberi proyek untuk mencabut atau membatalkan Kontrak Kerja dengan PT. GPS.” PT. GPS tidak layak diberikan pekerjaan itu, karena tidak berpihak kepada warga, mempermainkan warga dan mengadu domba warga dengan cara – cara seperti ini,” ucapnya.

Sementara itu pihak PT. GPS, Nurdi yang dihubungi www.suaralomboknews.com via Hanphone membantah tidak melibatkan warga lingkar LIA dalam proyek Perluasan Apron LIA.” Siapa bilang tidak dilibatkan, semuanya dilibatkan,” bantahnya singkat. [slNews – rul]

No Responses

Tinggalkan Balasan