Setelah Direlokasi, Warga Eks Pemilik Lahan Sirkuit Mandalika Ibarat Dihamili Tapi Tak Dinikahi

LOMBOK TENGAH | Kepala Dusun (Kadus) Ujung Lauk, Desa Kute, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Abdul Muthalib menyayangkan sikap PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) / Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) selaku pengembang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) The Mandalika yang didalamnya ada Sirkuit Mandalika di Desa Kute, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah yang tidak memberdayakan warga, khususnya warga eks pemilik lahan Sirkuit Mandalika yang kini telah direlokasi ke sejumlah wilayah di Lingkar KEK The Mandalika. “ Ada relokasi, tapi mau jadi apa, mau bercocok tanam, berkebun nggak ada tempat, mau pelihara ayam juga nggak bisa. Warga tidak diberdayakan ibarat dihamili tidak nikahi, dan setelah warga direlokasi, ITDC berbuat tidak bertanggung jawab, warga dibiarkan begitu saja dan tidak diberdayakan dalam setiap Event yang berlangsung di Sirkuit Mandalika,” sebut Abdul Muthalib usai aksi demo Forum Pemuda Peduli Pariwisata Lombok Tengah (FP3LT) di depan pintu utama Sirkuit Mandalika, Jumat, (17/6/2022).
Tokoh Adat dan Budaya yang kini masih tinggal di atas tanah miliknya yang berada di dalam kawasan Sirkuit Mandalika itu juga menyayangkan sikap para pemilik Hotel khususnya yang ada di dalam KEK The Mandalika. “ Kalau ada masalah, masyarakat tahunya pak Kadus saja, sedangkan saya jadi Kadus tidak pernah dilibatkan, diajak komunikasi dan diinformasikan kalau ada Rekrutmen Karyawan. Bahkan kalau ada event di Sirkuit Mandalika, saya selaku Kadus tahunya dari Media, bukan diinformasikan langsung oleh ITDC. Semestinya HRD (human resources development/manajemen sumber daya manusia) Hotel yang ada di KEK The Mandalika mencari Kadus kalau ada Rekrutmen Karyawan, sehingga warga yang diberdayakan betul betul warga yang bersentuhan dan terdampak langsung oleh KEK. Paling tidak seperti di kawasan pariwisata Senggigi, Lombok Barat, kalau ada Rekrutmen, HRD mencari Pak Kadus untuk meneruskan informasi Rekrutmen ke warganya,” ucap Abdul Muthalib
Pria yang mahir berbahasa Inggris itu juga meminta kepada ITDC dan Pemerintah Daerah untuk melaksanakan acara Adat dan Budaya dalam setiap event yang berlangsung di KEK The Mandalika dan di Sirkuit Mandalika. “ Harapan saya, ada acara adat dan budaya, seperti karnaval budaya, peresean, pentas seni dan budaya sebelum atau sesudah event. Misalnya, sebelum event MotoGP, dilaksanakan Karnaval Budaya yang lokasinya di luar Sirkuit untuk memancing wisatawan lokal datang ke The Mandalika dan untuk mempromosikan adat dan budaya kita kepada wisatawan dalam dan luar negeri, sehingga penjual nasi bungkus, es bungkus, kacang, jagung rebus, cilok jualannya bisa laku, karena tidak mungkin mereka bisa jualan di dalam Sirkuit saat event berlangsung, sebab yang jualan di dalam sirkuit itu UMKM bermodal dan yang mampu menyewa lapak. Untuk itu Pemda Lombok Tengah dan Pemprov NTB tolong buat kreasi, jangan hanya menerima PAD dari kegiatan yang sudah pasti saja, ibarat jangan hanya bisa menerima makanan siap saji saja,” harap Abdul Muthalib. [slnews – rul]

Tinggalkan Balasan