Seleksi Pemuda Pelopor Tingkat Provinsi NTB, Teh Prabu Untuk Dunia, Monkey Cave Dikembangkan Berbasis Lingkungan, Tim Penilai Kagum

SUARALOMBOKNEWS | Tim Seleksi Pemuda Pelopor Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Tahun 2026 melakukan penilaian terhadap dua pemuda asal Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Kamis (8/10/2026).
Kedua peserta tersebut yakni Lalu Zakiyyurahman pada bidang Ekonomi Digital dan Idayanti, SE pada bidang Lingkungan.
Kedatangan tim penilai yang diketuai Kepala Bidang Kepemudaan Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi NTB, H. Tarmizi, S.Kom., ME, disambut meriah oleh masyarakat Desa Prabu dengan atraksi seni budaya Sasak, Gendang Beleq.
Penilaian dilakukan di dua lokasi, yakni tempat produksi Teh Prabu di Dusun Bungawan Daye Desa Prabu dan kawasan yang dikembangkan sebagai destinasi wisata Tourist Information Monkey Cave atau Goa Monyet.
Kepala Dusun Bungawan Daye, Desa Prabu, Lalu Suhardi, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kedatangan tim seleksi ke Desa Prabu.
Ia mengatakan, terpilihnya dua pemuda Desa Prabu sebagai peserta Pemuda Pelopor Tingkat Provinsi NTB menjadi kebanggaan masyarakat.“Terima kasih kepada tim yang sudah berkunjung ke Desa Prabu. Kami menyadari masih banyak kekurangan, termasuk kondisi jalan yang masih kurang baik. Namun, pemuda-pemudi dari Desa Prabu bisa terpilih menjadi Pemuda Pelopor tingkat Provinsi NTB,” ujarnya.
Menurutnya, Idayanti selama ini aktif dalam upaya menjaga lingkungan dan mengembangkan potensi wisata Desa Prabu yang merupakan salah satu desa penyangga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.
Ia juga menegaskan bahwa berbagai isu mengenai aktivitas tambang ilegal maupun penggunaan merkuri yang dikaitkan dengan pengelolaan lingkungan di Desa Prabu tidak benar.“Isu tambang ilegal di Desa Prabu itu tidak benar, hoax. Begitu juga tuduhan adanya penggunaan merkuri, itu tidak benar. Idayanti melakukan pendekatan bagaimana menjaga dan memelihara lingkungan,” katanya.
Sementara Lalu Zakiyyurahman, lanjutnya, telah mengembangkan potensi lokal melalui Teh Prabu sekaligus sektor pariwisata.
Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Desa Prabu tidak hanya diperkenalkan dengan Teh Prabu, tetapi juga diajak mengenal budaya dan kuliner khas Sasak.“Banyak bule yang menginap dan diajarkan membuat kopi tubruk sampai siap diminum, memasak masakan khas Sasak, seperti pedis panas, plecing, membuat makanan ringan menggunakan buah labu, serta cara pengolahan Teh Prabu,” ujarnya.
Pemdes Prabu Bangga Dua Pemuda Jadi Peserta.
Kepala Desa Prabu, Muriadi, menyampaikan apresiasi kepada Tim Seleksi Pemuda Pelopor Provinsi NTB yang telah datang melakukan penilaian.“Atas nama Pemerintah Desa Prabu, kami menyampaikan terima kasih kepada Tim Seleksi Pemuda Pelopor. Ada dua pemuda asal Desa Prabu yang mengikuti seleksi. Tentunya dengan kemajuan ini kami sangat bangga kepada kedua peserta,” katanya.
Teh Prabu, Produk Lokal yang Dibawa ke Dunia.
Dalam pemaparannya, Lalu Zakiyyurahman menjelaskan inovasi yang dikembangkannya melalui Teh Prabu.
Ia mengusung konsep “Satu-satunya Teh Asal Prabu untuk Dunia” dengan memanfaatkan tanaman teh yang tumbuh liar di Desa Prabu dan disebut sebagai tanaman yang telah dikenal secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.“Di Lombok sangat terkenal dengan alamnya, tetapi dikenal tidak memiliki teh. Banyak minuman herbal. Maka kami memperkenalkan satu-satunya teh dari Desa Prabu untuk dunia,” ujarnya.
Lalu Zakiyyurahman mengatakan, pengembangan Teh Prabu tidak langsung berhasil. Pada 2024, ia mengaku telah mencoba hingga enam kali dan mengalami kegagalan sebelum akhirnya berhasil menghasilkan produk yang dapat dikonsumsi.“Banyak yang bilang Teh Prabu tidak bisa mendunia. Itu saya buktikan. Sekarang saya bisa mengangkat Desa Prabu melalui alam, budaya dan pariwisata,” katanya.
Menurutnya, nama Teh Prabu diambil karena tanaman tersebut tumbuh liar di Desa Prabu dan diyakini merupakan tanaman peninggalan nenek moyang.
Teh tersebut diolah secara tradisional dengan bahan yang berasal langsung dari alam tanpa tambahan bahan kimia.
Setiap musim hujan, para pemuda mulai melakukan penanaman dan pengembangan tanaman teh. Wisatawan yang berkunjung juga dapat mengikuti aktivitas memetik daun teh secara langsung.“Kalau ada tamu yang berkunjung, langsung kami suguhkan teh yang diolah secara tradisional,” katanya.
Lalu Zakiyyurahman menyebut Teh Prabu memiliki keunikan karena merupakan teh herbal yang dikembangkan dari potensi lokal Desa Prabu.
Pengembangan produk tersebut juga melibatkan masyarakat, termasuk kaum perempuan dan pemuda desa.
Teh Prabu kini telah dikemas sebagai produk oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Monkey Cave.
Bahkan, menurut Lalu Zakiyyurahman, bibit Teh Prabu telah dibawa hingga ke Maroko untuk diteliti.“Teh ini sudah dibawa bibitnya sampai ke Maroko. Kami juga memberdayakan pemuda,” ujarnya.
Selain menjadi produk ekonomi, Teh Prabu juga dikembangkan sebagai sarana edukasi dan penelitian. Sejumlah mahasiswa dari Yogyakarta, Universitas Mataram (Unram) dan Poltekpar Lombok disebut telah melakukan pembelajaran dan penelitian di lokasi tersebut.
Inovasi digital juga diterapkan melalui QR Code yang ditempel pada setiap kemasan Teh Prabu.
Dengan memindai QR Code, konsumen dapat memperoleh informasi mengenai Teh Prabu, mulai dari proses pengolahan, cara menyeduh, wadah atau cangkir yang digunakan, hingga informasi organisasi pengelola. QR Code tersebut juga dapat digunakan untuk melakukan pembayaran secara digital.“Semua sudah serba digital. Teh Prabu juga sudah masuk ke hotel dan itu menjadi sarana promosi pariwisata di Desa Prabu,” katanya.
Ia menegaskan pengembangan Teh Prabu bukan merupakan usaha pribadi semata, melainkan melibatkan berbagai pihak dan masyarakat Desa Prabu.“Saya tidak bekerja sendiri. Saya mengajak semua pihak. Anak Desa Prabu harus bisa membuat produk sendiri yang hanya ada di Desa Prabu,” ujarnya.
Monkey Cave Dikembangkan Berbasis Lingkungan.
Sementara itu, peserta bidang Lingkungan, Idayanti, SE, memaparkan pengembangan kawasan Monkey Cave sebagai destinasi wisata berbasis alam dan lingkungan.
Idayanti mengatakan, gagasan tersebut muncul dari pengalamannya bekerja di sektor perjalanan wisata dan melihat potensi alam Desa Prabu.
Ia kemudian mengajak rekan-rekannya untuk mengembangkan Monkey Cave sebagai salah satu destinasi wisata yang tetap mempertahankan kondisi alam.“Wisatawan banyak yang suka lingkungan yang asli karena di negara mereka tidak ada yang seperti kita di sini. Itu yang sangat memotivasi saya untuk membuka wisata Monkey Cave,” katanya.
Menurut Idayanti, Monkey Cave mulai dikembangkan sejak 24 Agustus 2024 dan hingga kini tetap mempertahankan kondisi alamnya.
Ia menjelaskan, destinasi tersebut memiliki cerita lokal mengenai seorang perempuan yang bertapa di dalam goa dalam waktu yang sangat lama hingga dipercaya berubah wujud menjadi monyet putih.
Cerita tersebut kemudian dikembangkan menjadi storytelling sebagai bagian dari daya tarik wisata Monkey Cave.“Gua Monyet adalah salah satu destinasi wisata yang ada di Desa Prabu yang berjalan sejak 24 Agustus 2024. Jalur menuju goa masih tergolong alami. Tidak ada yang kami ubah walaupun sudah berjalan dua tahun,” ujarnya.
Idayanti mengatakan, keikutsertaannya dalam seleksi Pemuda Pelopor bidang Lingkungan bertujuan memperkenalkan potensi Desa Prabu kepada masyarakat luas, termasuk wisatawan mancanegara dan domestik.
Menurutnya, pengembangan pariwisata dilakukan dengan memanfaatkan hutan dan alam sebagai objek wisata tanpa menghilangkan keaslian lingkungan.“Tujuan kami mewujudkan destinasi pariwisata berbasis alam yang berkelanjutan, memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal tanpa merusak kelestarian lingkungan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan dan pengembangan destinasi wisata.“Walaupun banyak destinasi di Desa Prabu, saya tidak pernah mengubah apa pun di sini. Tetap asli, tidak merusak alam. Kami menjadikan lingkungan sebagai wisata, baik budaya maupun alam, dan memberdayakan masyarakat lokal dengan melibatkan mereka dalam pengelolaan dan pengembangan wisata,” ujarnya.
Tim Penilai Sebut Kualitas Peserta Desa Prabu Sangat Bagus.
Usai melakukan penilaian, Ketua Tim Seleksi Pemuda Pelopor Tingkat Provinsi NTB, H. Tarmizi, S.Kom., menyampaikan apresiasi atas sambutan masyarakat Desa Prabu.“Penyambutan di Desa Prabu ini sangat luar biasa. Saya sangat bangga melihat anak Lombok Tengah. Sebenarnya saya sudah tahu potensi anak-anak Lombok Tengah luar biasa,” katanya.
Tarmizi menyebut kualitas peserta dari Desa Prabu sangat bagus dan berpeluang masuk nominasi.“Kalau khusus Desa Prabu, kualitasnya sangat bagus. Tentunya bisa masuk nominasi. Kami tidak bisa membuka secara gamblang karena semua peserta ini berkualitas,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa proses penilaian di Desa Prabu berlangsung cukup lama karena tim melihat potensi dan kualitas yang ditampilkan peserta.“Kami paling lama melakukan penilaian di Desa Prabu dan sangat berkualitas,” katanya.
Terkait jumlah peserta Pemuda Pelopor se-NTB, Tarmizi mengatakan terdapat 32 peserta yang mengikuti seleksi.
Dari proses tersebut, pihaknya akan mengusulkan 15 nama untuk mengikuti seleksi tingkat nasional, yakni juara I, II dan III dari lima bidang.“Kami akan mengajukan 15 nama peserta Pemuda Pelopor, juara satu, dua dan tiga untuk lima bidang,” jelasnya.
Sementara terkait peluang peserta dari Lombok Tengah untuk melaju ke tingkat nasional, Tarmizi berharap ada wakil dari daerah tersebut.“Saya berharap. Ini luar biasa dan saya lihat juri-jurinya sangat antusias,” katanya.
Untuk pengumuman hasil seleksi, Tarmizi mengatakan biasanya dilakukan sekitar tiga hari setelah seluruh rangkaian penilaian selesai.
Tim seleksi dijadwalkan melanjutkan proses penilaian di sejumlah daerah di NTB sebelum seluruh hasil ditetapkan. [SLNews – rul].

Tinggalkan Balasan