Kearifan Lokal Suku Sasak Jadi Pilar Pemulihan Pasca Kebakaran Rumah Adat Sade Lombok Tengah

SUARALOMBOKNEWS | Pasca terbakarnya kawasan rumah adat Sade di Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu (22/8/2026) malam yang mengakibatkan ratusan Rumah Adat Sade ludes terbakar, perhatian tidak hanya tertuju pada pemulihan fisik, tetapi juga pemulihan psikologis dan sosial masyarakat terdampak.
Selaku warga, Murdi AP, M.Si mengatakan, masyarakat Suku Sasak di Lombok memiliki warisan kearifan lokal yang terbukti tangguh dalam menghadapi berbagai ujian dan bencana, termasuk musibah kebakaran.
Menurut pria asal Desa Kawo, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah itu, ritual adat dan tradisi pasca bencana tidak semata-mata merupakan kegiatan seremonial. Tradisi tersebut memiliki peran penting dalam proses pemulihan psikologis atau healing, sekaligus memperkuat solidaritas sosial masyarakat yang terdampak bencana.“Ritual pasca bencana penting dilestarikan karena menjadi pilar pemulihan masyarakat setelah menghadapi bencana,” kata Murdi, Senin, (24/8/2026).
Murdi menjelaskan, salah satu tradisi yang dapat menjadi kekuatan dalam pemulihan adalah Besiru, yakni wujud nyata prinsip gotong royong tanpa pamrih dalam masyarakat Sasak.
Melalui tradisi tersebut, masyarakat dapat bergerak bersama membantu korban, mulai dari membersihkan puing-puing bangunan hingga bergotong royong membangun kembali hunian warga yang mengalami kerusakan atau hancur akibat kebakaran.
Selain Besiru, terdapat pula tradisi Roah yang memiliki fungsi sebagai penguat spiritual masyarakat. Tradisi selamatan dan doa bersama tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari proses pemulihan batin masyarakat setelah mengalami musibah.“Doa bersama dapat membantu memulihkan trauma komunal, menumbuhkan rasa syukur, sekaligus membangun harapan baru bagi masyarakat,” ucap Murdi
Menurut Murdi, ritual adat juga memiliki fungsi sebagai bagian dari restorasi nilai-nilai leluhur. Tradisi tersebut mengingatkan masyarakat tentang pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Nilai-nilai itu, lanjutnya, dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk melakukan evaluasi secara kolektif terhadap upaya mitigasi bencana, khususnya yang berbasis lingkungan dan kearifan lokal.
Murdi menilai keberadaan pranata adat dan peran tokoh masyarakat atau pemangku adat sangat vital dalam mempercepat proses rehabilitasi masyarakat, baik secara fisik maupun mental.
Peran tersebut, kata dia, dapat berjalan beriringan dengan bantuan formal dari pemerintah dan berbagai pihak lainnya.“Pranata adat dan tokoh masyarakat memiliki posisi penting dalam mempercepat pemulihan masyarakat, bahkan dapat berjalan mendahului atau melengkapi bantuan formal pemerintah,” ujar Murdi. (SLNews – Rul]

Tinggalkan Balasan