Warga Eks Penambang Emas Prabu Berebut Bibit Buah

Warga Eks Penambang Emas Prabu Berebut Bibit Buah
Puluhan warga Desa Prabu mengambil bibit buah - buahan bantuan dari Pemprov NTB dihalaman Kantor Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, NTB, Kamis (05/12/2019)

SUARALOMBOKNEWS.com – LOMBOK TENGAH | Warga eks Penambang Emas Ilegal di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) menerima bantuan 3 ribu bibit buah – buahan dari Dinas Kehutanan Provinsi NTB, Kamis (05/12/2019)
Jenis bibit buah yang diterima warga eks Penambang emas ilegal di Desa Prabu itu yakni bibit buah Mangga, Nangka dan Durian.
Bantuan bibit buah – buahan program dari Pemprov NTB itu disambut baik oleh warga eks Penambang Emas Ilegal. Bahkan warga eks Penambang emas Ilegal itu berebut untuk bisa mendapatkan¬† bibit buah – buahan tersebut.”Begitu bibit datang di Kantor Desa langsung diambil warga, bahkan ada warga yang saling berebut karena takut tidak kebagian bibit,”ungkap Kepala Desa (Kades), Lalu Mohamad Saihu, Sabtu, (07/12/2019).
Lalu Saihu mengeluh, Bantuan bibit buah – buahan program penutupan aktivitas tambang emas Ilegal di Desa Prabu dari Pemrov NTB itu jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah warga penerima bantuan.” Jumlahnya sangat kurang. Desa juga tidak bisa membagi rata bibit buah, karena jumlahnya sangat kurang. Untuk itu kami berharap bantuan bibit buah – buahan bisa ditambah dan kalau bisa juga ada bibit buah kelengkeng dan Kelapa Genjah,”pintanya
Untuk program bantuan lainnya, kata Lalu Saihu, warga melalui Pemerintah Desa (Pemdes) Prabu diminta untuk mengajukan Proposal ke Pemprov NTB, salah satu ke Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB.”Kemarin Dinas Pertanian Provinsi sudah turun langsung ke Desa Prabu, dan menjanjikan akan ada bantuan Sapi kepada warga eks Penambang Emas Illegal. Muskipun jumlah Sapi yang akan diberikan belum pasti, namun warga melalui Pemdes diminta untuk mengajukan proposal bantuan Sapi, dan dalam waktu dekat ini Pemdes akan mengajukan Proposal ke Pemprov NTB,”katanya
Lalu Saihu mengaku sangat menyayangkan sikap sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemprov NTB yang tidak tanggap dan serius memperhatikan nasib warga pasca ditutupnya aktivitas Tambang Emas Ilegal di Desa Prabu dan sekitarnya.”Yang kami sangat sayangkan itu, sikap dari Dinas Koperasi, Dinas Pariwisata dan Dinas Pertambangan Provinsi NTB yang sama sekali tidak merespon apa yang menjadi harapan dan tuntutan warga Desa Prabu. Bahkan dibeberapa pertemuan dan Sosialisasi penanganan warga pasca penutupan aktivitas tambang emas ilegal Dinas Pariwisata Provinsi maupun Kabupaten tidak pernah hadir, padahal karena alasan Pariwisata tambang emas di Desa Prabu dan sekitarnya ditutup dan tidak bisa dilegalkan,”keluhnya
Selain itu kata Lalu Saihu, PT. ITDC selaku pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) The Mandalika di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah juga setengah hati memperhatikan nasib dan keberlangsungan ekonomi warga eks Penambang Emas Ilegal Desa Prabu.” ITDC juga tidak ada perhatiannya sama sekali. Bahkan ratusa sopir Dum Truck dari Desa Prabu hannya satu dua saja yang diberikan ijin mengangkut Material untuk pengerjaan Sirkuit MotoGP,”sebutnya
Pasca ditutupnya aktivitas tambang emas ilegal lanjut Lalu Saihu, perekonomian warga Desa Prabu yang 95 persen menjadi penambang emas menjadi lumbuh. Bahkan sejumlah warga memilih untuk melelang Alat Berat dan Dum Trucknya karena tidak bisa lagi membayar kredit.” Penutupan tambang emas ini juga berdampak kepada Pedagang Sayur keliling. Dulu sebelum tambang emas ditutup, mereka (Pedagang Sayur) bisa menjual seluruh barang dagangannya, tetapi sekarang kadang – kadang tidak ada satupun warga yang belanja,”tuturnya
Pantauan suaralomboknews.com di wilayah Desa Prabu terlihat lokasi – lokasi pengolahan emas Ilegal terlihat sepi dan hannya telihat bongkahan batu dan sisa material tanah. Mesin – mesin pengolahan emas juga terlihat tidak terurus dan dibiarkan berserakan.”Kalaupun ada yang masih mengolah, yang diolah itu sisa – sisa tanah sebelum ditutup. Kalaupun mau mengolah emas, warga kesulitan untuk mendapatkan material tanah yang mengandung emas dan bahan – bahan pengolahan emas, seperti potasium dan lain – lain. Karena tempat mengambil material tanah itu lahan milik pribadi, bukan lahan umum.” ujar Lalu Mohamad Saihu. [slNEWS – rul]

No Responses

Tinggalkan Balasan