Tidak Ada Lagi Kemiskinan Jika Kran Ekspor Baby Lobster Dibuka

Tidak Ada Lagi Kemiskinan Jika Kran Ekspor Baby Lobster Dibuka
Aktivis Lingkungan Nusa Tenggara Barat (NTB), Hasan Gauk

Tidak Ada Lagi Kemiskinan Jika Kran Ekspor Baby Lobster Dibuka
Oleh : Hasan Gauk (Aktivis Lingkungan NTB)

Indonesia dikenal sebagai Negara Maritim tentu bukan sekedar sebutan saja bagi Negara ini. Indonesai secara geografis merupakan Negara yang terdiri dari 5 pulau besar dan ribuan pulau pulau kecil. kondisi ini membuat Indonesia memiliki ratusan pantai yang sudah terjamah manusia maupun yang  belum,
lengkap dengan keindahan masing -masing dan keanekaragaman hayati.
Dari potensi itulah mulai muncul banyak desa desa nelayan dengan berbagai macam keanekaragaman  budayanya, di mana pada perkembangannya desa nelayan ini tidak hanya sebatas akti fitas melaut.
Tapi dewasa ini banyak kita temukan masyarakat pesisir mulai mengembangkan aktifitas budidaya ,  khususnya Lobster.
Di pulau Lombok sendiri zona pembudidaya terdapat di beberapa lokasi strategis seperti di Lombok Barat, Sekotong dan Teluk Sepi. Di LombokTengah Bumbang dan Teluk Awang , dan terakhir di Lombok Timur yang memiliki lokasi terbanyak seperti, Seriwe , Ekas , Batu Nampar , dan Teluk Jukung.
Hadirnya ‘’ Laut Lombok Asosiasi ’’ sebagai perpanjangan tangan untuk menciptakan kesejahteraan terhadapmasyarakat nelayan yang selama ini masih bergelut dalam rasio kemiskinan.
LLA hadir s ebagai media alternatif untuk memotong angka kemiskinan yang selama in i menyandra
masyarakat pesir lewat media kooprasi . Baik di bidang pendidikan , kesehatan , dan perekonomian . Koprasi ini akan menaungi masyarakat baik pembudidaya , penyelam , pengusaha , dan para pelaku usaha lainnya, Komitmen inilah yang mendasari terbentuknya LLA. Dengan adanya revisi Permen KP56 tahun 2016 sangat disambut baik oleh masyarakat nelayan . Di mana,dengan adanya revisi ini masyarakat sangat menyakini bahwa mereka akan mengangkat  kesejahteran dan
tarap hidup mereka . Seperti yang telah disampaikan Mentri KKP Edhy Prabowo bahwa ‘’ Ia telah  menyusun peta jalan pengolahan benih lobster dan pengembangan budidaya .

Bila budidaya telah berkembang baik di Indonesia maka keran ekspor akan ditutup .’’ Artinya , tak selamanya masyarakat akan melakukan kegiatan ekspor .
Data hasil riset kami juga menunjukkan bahwa , benur tidak akan pernah habis bila dilakukan ekspor  secara besar-besaran . Penangkapan benih Lobster dimulai pada awal 1991, Lobster tidak terpengaruh sama sekali dengan adanya penangkapan benih , akan tetapi yang menjadi penyebab utama benur tidak bisa hidup adalah , karena kerusakan ekosistem laut seperti rusaknya karang akibat pengeboman , sampah , dan potassium. Jika hari ini pemerintah melegalkan pengiriman benur, masyarakat akan terlibat secara “khusus ” untuk menjaga keberlangsungan ekosistem laut, menjaga laut dari sampah, pengeboman, da n potasium yang sangat berbahaya bagi keberlangsungan hidup ekosistem laut.
Dari angka yang kami temukan di Lombok Timur perhari penangkapan benih berkisar antara 800 ribu  yang sudah dilakukan sejak tahun 1991. Artinya , masyarakat secara umum tidak perlu khawatir akan
ketersediaan benur-benur atau baby Lobster baru yang diproduksi alam.
Satu indukan Lobster mampu menghasilkan benur sejumlah 3 juta . Jenis Pasir 100 gram sudah mampu
menghasilkan benur , berbeda dengan jenis Mutiara , ia akan ma mpu menghasilakan benur saat  mencapai 500 gr. Inilah yang akan menjadi win win solusion bahwa,  indukan yang sudah bertelur tidak boleh ditangkap .
Dengan dibukanya kran ekspor ini akan berdampak secara signifikan pada perubahan lingkungan,
maksudnya , masyarakat pesisir akan ikut serta menjaga kelestarian laut dari tumpukan sampah . Karena sampah salah satu penyebab utama benur tidak bisa berkembang dengan baik. [*]

No Responses

Tinggalkan Balasan