Tak Terima Tambang Emas Ditutup, Penambang Emas Desa Prabu Melawan

Tak Terima Tambang Emas Ditutup, Penambang Emas Desa Prabu Melawan

SUARALOMBOKNEWS.COM – Lombok Tengah | Penambang Emas Ilegal di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan dengan tegas melawan perintah Bupati Lombok Tengah HM. Suhaili FT, SH untuk segera menutup dan menertibkan lokasi penambangan emas Ilegal di Desa Prabu.”Kami minta kepada Bupati Lombok Tengah mencabut pernyataannya untuk menutup aktivitas Tambang Emas di Desa Prabu. Kedua kami minta kepada Bupati Lombok Tengah mengurus penerbitan izin tambang untuk masyarakat, terlebih lagi Lombok Tengah masih menjadi Kantong Kemiskinan,” ungkap pendiri LSM SUAKA NTB, Bustomi Taipuri didampingi Sekdes Prabu, Lalu Muktar Sidik saat menggelar Konprensi Pers di salah satu rumah makan di Kota Praya, Lombok Tengah, Senin, (10/12/2018).
Pria yang akrab disapa Omik itu menyatakan sangat menyayangkan pernyataan Bupati Lombok Tengah HM. Suhaili FT yang memerintahkan untuk segera menutup aktivitas Penambangan Emas Ilegal di Desa Prabu. Terlebih lagi pernyataan Bupati Lombok Tengah itu berdasarkan permintaan dari PT. ITDC selaku pengelola KEK The Mandalika Kuta, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.”Kalau karena ada permintaan dari KEK, sangat kami sayangkan, Banyak hal yang belum dilihat oleh Bupati di lapangan. Disana (Desa Prabu) ada ribuan masyarakat yang bekerja, semestinya itu bisa menjadi bahan pertimbangan pak Bupati, terlebih lagi Bupati Lombok Tengah tidak pernah menyiapkan lapangan pekerjaan,” ucap Omik.
Ditempat yang sama, Sekretaris Desa (Sekdes) Prabu, Lalu Muktar Sidik mengatakan, Tambang Emas di Desa Prabu mulai beraktivitas sejak tahun 2009 lalu. Sejak beraktivitasnya tambang emas itu, berdampak kepada meningkatnya perekonomian masyarakat dan terciptanya situasi Kamtibmas yang aman dan nyaman, khususnya di Desa Prabu.”Sejak adanya tambang emas ini, ekonomi masyarakat meningkat, dan keamanan terwujud. Dan dari tahun 2009 baru sekarang kami mendengar tambang emas itu akan ditutup, dan pernyataan Bupati itu sangat kami sayangkan, dan tidak berimbang,”sebutnya.
Lokasi penambangan dan pengambilan material emas, kata Lalu Muktar, tidak pernah keluar dari wilayah Desa Prabu. Dan masyarakat tetap bertahan melakukan aktivitas penambangan karena tidak menyebabkan kerusakan lingkungan maupun menyebabkan gangguan kesehatan.”Lokasi pengambilan material tidak pernah keluar dari wilayah Desa Prabu. Beberapa minggu lalu kami didatangi dari Kementerian Lingkungan Hidup, hasilnya tambang emas ini bisa diberikan izin. Kok sekarang ada pernyataan dari Bupati Lombok Tengah, itu artinya ada perbedaan keinginan Kementerian Lingkungan Hidup dengan Pemda Lombok Tengah. Penambangan itu juga tidak merusak lingkungan, ada tidak hasil penelitian yang menyatakan penambangan itu telah merusak lingkungan, dan silakan di cek di Puskesmas ada tidak masyarakat yang terganggu kesehatannya,”ungkapnya.
Lebih lanjut Lalu Muktar, dari 1500 KK di Desa Prabu, 90 persennya beraktivitas sebagai Penambang Emas.” Hannya satu dua saja masyarakat yang tidak menambang. Jadi kalaupun ada penutupan, harus ada solusi dan alternatuf yang nyata kepada masyarakat. Sekarang kami (Pemdes) yang disalahkan karena dianggap tidak bisa menyelesaikan persoalan,” ujarnya. [slNews.com – rul].

No Responses

Tinggalkan Balasan