Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

SMAN 2 Praya Ditunjuk Sebagai Penyelenggara Pendidikan Inklusif

SMAN 2 Praya Ditunjuk Sebagai Penyelenggara Pendidikan Inklusif
Kepala SMA Negeri 2 Praya, Lombok Tengah, Mashab menghadiri Sosialisasi dan Workshop Peningkatan Mutu Guru Penyelenggara Pendidikan Inklusif di Aula SMA Negeri 2 Praya, Lombok Tengah, NTB, Selasa (17/9/2019)

SUARALOMBOKNEWS – LOMBOK TENGAH | Pemerintah Pusat melalui Direktorat Pendidikan Menengah, Kementerian Pendidikan RI menunjuk SMA Negeri 2 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai sekolah Penyeleggara Pendidikan Inklusif di Lombok Tengah.”Untuk di Lombok Tengah SMAN 2 Praya yang ditunjuk sebagai sekolah penyelenggara Pendidikan Inklusif,”ungkap Kepala SMAN 2 Praya, Mashab usai mengikuti Sosialisasi dan Workshop peningkatan Mutu Guru Penyelenggara Pendidikan Inklusif yang digelar di Aula SMAN 2 Praya, Selasa (17/9/2019)
Sebagai tindak lanjutnya kata Mashab, SMAN 2 Praya menggelar Sosialisasi dan Workshop Peningkatan Mutu Guru Penyelenggara Pendidikan Inklusif selama tiga hari yakni dari Tanggal 17 – 19 September 2019, yang Narasumbernya langsung dari Direktorat Pendidikan Menengah, Kementerian Pendidikan RI.”Pesertanya Kepala Sekolah, Guru, Komite dan Orang Tua Siswa dari 8 Sekolah, yakni dari jenjang SD, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK,”katanya.
Mashab menjelaskan, Tujuan kegiatan peningkatan mutu guru adalah Guru mata pelajaran memahami konsep pendidikan inklusif, Guru mata pelajaran memahami karakteristik dan kemampuan peserta didik berkebutuhan khusus , Penyusunan RPP modifikasi atau adaptasi serta model pembelajaran peserta didik berkebutuhan khusus.”Selain itu untuk menyatukan cara pandang dan cara berpikir guru, bahwa guru harus menerima siswa berkebutuhan khusus pada saat mendaftar dan memberikan pelayanan pendidikan maksimal seperti peserta didik Reguler. Selain itu semua sekolah Reguler harus menerima siswa berkebutuhan khusus, sesuai dengan amanat Undang – Undang Dasar,”jelasnya.
Hasil yang diharapkan dari kegiatan workshop, lanjut Mashab ¬†semua sekolah dapat melaksanakan program pendidikan inklusif, guru dapat memahami konsep tentang pendidikan inklusif, guru dapat mengetahui kemampuan peserta didik berkebutuhan khusus dan peserta didik regular, dan guru dapat memahami dan menyusun kurikulum adaptasi maupun modifikasi serta menerapkan model pembelajaran sesuai kemampuan peserta didik berkebutuhan khusus.”Dengan demikian, semua kebutuhan siswa berkebutuhan khusus bisa terpenuhi,”ujarnya. [slNEWS – rul]

No Responses

Tinggalkan Balasan