Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Mengaktualisasikan Nilai – Nilai Filosofis Lebaran Topat

Mengaktualisasikan Nilai – Nilai Filosofis Lebaran Topat
Staf Ahli Bupati Lombok Tengah Bidang Hukum, Politik dan Pemerintahan, Murdi AP

“Sebuah Pandangan Untuk Pengkhidmatan Dalam Upaya Pembangunan Karakter Bangsa Melalui Tradisi Lebaran Topat Bertajuk ‘Festival Syawal Solah Soleh Soloh’ di Kabupaten Lombok Tengah”

Oleh : Murdi AP MSi

Parameter tunggal, tinggi, rendahnya derajat manusia dibandingkan dengan makhluk lainya yang diciptakan Allah SWT / Tuhan yang maha esa, bukan hanya karena tercipta dari kombinasi komplit antara unsur tanah, air, api, dan angin semata, tetapi karena derajat ketaqwaan. Parameter ini final dan tidak dapat ditangguhkan oleh dimensi apapun. Dalam ilmu kimia, kita pernah mendapatkan pencerahan, bahwa unsur sejenis memiliki kecenderungan menyatu. Banyak pandangan meyakini, bahwa melekatnya unsur api dalam diri manusia sepanjang hayatnya, menjadikan manusia seringkali terjebak dalam perangkap setan yang notabene tercipta dari unsur api, merupakan proses penyatuan (persenyawaan) unsur api yang sejenis itu. Unsur api sendiri kita pahami memiliki karakteristik dan sifat membangkang, membantah, melawan, dan segala macam bentuk penentangan lainnya atas perintah dan larangan Allah SWT. Ujug-ujungnya, sifat inilah yang memproduksi dosa. Api dan dosa melebur menjadi satu di neraka. Ya Allah, jauhkan kami dari perihnya siksa neraka.
Garis besarnya, manusia memang membawa sifat dasar sebagai makhluk berdosa. Beruntungnya, Allah SWT memberikan kesempatan (peluang) kepada manusia untuk mendapatkan ampunannya. Ampunan atas dosa akibat kesalahan dan kekhilafan yang dilakukan sepanjang hayat di dunia. Allah SWT menggelar seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya jalan, cara, metode, teknik, kesempatan, dan proses yang diberikan kepada manusia untuk mendapatkan ampunanNYA. Ampunan ini menjadi prasyarat sekaligus syarat essensial dalam mendapatkan cinta sejati, yaitu cinta ALLAH SWT atas makhluk ciptaanNYA. Salah satu jalan itu adalah tuntasnya, rampungnya, selesainya urusan atau perkara yang berhubungan dengan sesama manusia. Pernah kudengar/kubaca, sebuah qoutes (kutipan) bahwasanya ALLAH SWT berpaling dari ikhtiar manusia yang berjuang mendapatkan ampunanNYA karena belum tuntasnya urusan manusia itu dengan sesamanya. Benang merah dari hal dimaksud adalah manusia diwajibkan terlebih dahulu untuk berikhtiar menuntaskan urusan sesamanya dalam proses menuju ijabah ampunan ALLAH SWT. Dalam kehidupan masyarakat di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagai bagian dari entitas masyarakat sasak terdapat sebuah kegiatan komunal yang melekat sebuah identitas religius dalam balutan budaya islami yang diyakini dan mentradisi sebagai jalan menuntaskan urusan sesama umat manusia. Kegiatan ini familiar dikalangan masyarakat sasak sebagai “Lebaran Topat”.
Imajinasi seseorang ketika mendengar dan/atau membaca Topat, akan tergiring pada area ekspektasi kuliner, yaitu sebuah makanan berbahan dasar beras yang diolah dan dibungkus Janur (daun kelapa muda). Dikalangan masyarakat sasak, istilah topat sendiri merupakan aklimatisasi dari kata ketupat atau kupat, yang berasal dari bahasa jawa dan diperkenalkan oleh salah seorang aulia Sunan kalijaga, yaitu ngaku lepat. Diartikan sebagai mengakui kesalahan. Sampai disini dapat dipahami bahwa topat merupakan produk akulturasi budaya Islami masyarakat Jawa di tengah-tengah masyarakat Sasak. Hal dimaksud sering dijadikan pijakan awal analisis asal mula peradaban Islam di pulau Lombok masuk melalui Jawa. Makanan ketupat menjadi simbol dalam tradisi masyarakat Jawa. Pada hari lebaran dan hari-hari lainnya, ketupat dijadikan suguhan utama dan harus dimakan sebagai pertanda sudah rela dan saling memaafkan antar sesama. Sebuah object dapat dikatakan simbol jika mengandung makna dan atau nilai. Dalam konteks filosofis, ketupat menampung nilai :
Pertama : penolak bala, disimbolkan dalam media janur kuning. Janur (busung dalam bahasa sasak) artinya sejatine nur (cahaya) perlambang sebuah kondisi manusia dalam keadaan suci setelah mendapatkan pencahayaan selama bulan Suci Ramadhan. Nilai yang terkandung didalamnya yaitu manifestasi essensial kesucian lahir dan batin tujuan hidup manusia.
Kedua : Penaklukan nafsu, disimbolkan oleh bentuk segi empat, perlambang bahwa proses hidup manusia setiap saat mengenakan pakaian empat macam nafsu, yaitu nafsu amarah (emosional), nafsu lawwaamah (memuaskan rasa lapar), nafsu sufiah (memiliki sesuatu yang indah), dan nafsu muthmainah (memaksa diri). Nilai yang terkandung didalamnya yaitu memakan ketupat menjadi simbol bahwa manusia tersebut sudah mampu menaklukkan empat macam nafsunya. Ketiga :  bersih dan suci, disimbolkan oleh warna putih daging ketupat, perlambang kondisi manusia yang dalam keadaan bersih dan suci setelah mendapatkan ampunan karena berikhtiar menuntaskan urusan sesama manusia dengan saling memaafkan.
Keempat : kemakmuran, disimbolkan oleh bahan ketupat yang terbuat dari beras.
Keempat nilai-nilai filosofis itulah yang ingin diaktualisasikan entitas masyarakat di Kabupaten Lombok Tengah melalui kegiatan lebaran topat bertajuk “Festival Syawal Solah Soleh Soloh” pada tanggal 8 bulan Syawal dalam kalender hijriah yang bertepatan dengan tanggal 12 Juni 2019 dalam kalender masehi. Terdapat berbagai rangkaian kegiatan yang akan digelar dengan memadukan konsep religi dan kebudayaan. Konsep ini diusung dengan maksud bahwa perayaan lebaran topat yang mengambil lokasi di kawasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Risort di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, diharapkan dapat membawa berkah bagi keberlangsungan hidup seluruh umat manusia. Karenanya, perayaan ini bersifat terbuka untuk umum. Semakin banyak yang hadir, terlibat, dan berkontribusi dalam kegiatan lebaran topat, maka dapat dijadikan parameter bahwa pembangunan di Kabupaten Lombok Tengah, sesungguhnya bukan melulu soal infrastruktur dan ekonomi belaka. Tetapi yang lebih essensial dari semua itu adalah aktivitas penyatuan, mensenyawakan energi kolektif kultural agar dapat mendatangkan keberkahan, kemaslahatan, dan keutuhan jati diri manusia ditengah rumitnya proses hidup dan kehidupan.

No Responses

Tinggalkan Balasan