Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Lombok Berpotensi Gempa 8,5 Magnitudo, Suhaili : BMKG Jangan Sok

Lombok Berpotensi Gempa 8,5 Magnitudo, Suhaili : BMKG Jangan Sok
Bupati Lombok Tengah, H. Moh Suhaili FT, SH (kanan) Kepala BMKG Mataram, NTB, Agus Riyanto (kiri)

SUARALOMBOKNEWS.COM – LOMBOK TENGAH | Bupati Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), H. Moh Suhaili FT, SH meminta masyarakat Lombok Tengah, khususnya yang berada di bagian selatan Lombok Tengah tidak panik menyikapi pemberitaan tentang Potensi Gempa Magathrust berkekuatan 8,5 di selatan Pulau Lombok.” Saya mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, cermati dan pahami maksud Informasi dari berita itu, jangan sampai informasi itu dikembangkan macem – macem oleh oknum yang tidak bertanggungjawab,”ucap H. Moh Suhaili FT, SH, Jumat (5/7/2019).
Suhaili menceritakan, pasca pernyataan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Mataram Agus Riyanto yang dimuat disejumlah media lokal maupun Nasional, khususnya masyarakat yang berada di pesisir pantai bagian selatan Lombok Tengah dilanda ketakutan dan kecemasan, bahkan sebagian masyarakat ada yang keluar dari dalam rumah dan tidak berani tidur didalam rumah.”Masyarakat sekarang sudah resah, banyak masyarakat dari Praya Barat, Pujut yang nelpon tadi malam. Kasihan masyarakat, tadi malam begitu dapat informasi dari Berita langsung berlarian keluar rumah, tidak ada yang berani tidur didalam rumah,”ceritanya
Bupati Lombok Tengah dua periode itu mengaku sangat menyayangkan pernyataan dari Kepala BMKG Mataram yang dimuat di sejumlah media lokal maupun nasional.
Semestinya kata Ketua DPD Partai Golkar Provinsi NTB itu, BMKG tidak mengeluarkan pernyataan hasil dari penelitian terkait potensi Gempa di Lombok bagian selatan, melainkan melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan Mitigasi Bencana, sehingga menjadikan masyarakat NTB umumnya dan khususnya masyarakat Lombok Tengah yang tangguh dan mantap terhadap bencana.”Silakan saja BMKG menyampaikan hasil kajiannya, selama bisa dipertangungjawabkan secara Ilmiah dan secara teknis. Dan masalah ini (Gempa) sangat – sangat rentan, sangat sensitif, terlebih lagi kondisi masyarakat kita yang masih trauma diterpa Gempa pada Tahun 2018 lalu, jangan sampaikan sesuatu yang kesannya seolah – olah sudah pasti jadi. Mungkin maksudnya bukan seperti itu, tapi tolonglah pakai bahasa biasa, karena pemahaman sebagian masyarakat kita masih awan. Untuk itu BMKG jangan Sok,” kesal H. Moh Suhaili
Sebelumnya, Kepala BMKG Mataram Agus Riyanto mengatakan dari hasil simulasi dan pemodelan tsunami (Tsunami Modeling), wilayah Lombok Selatan menyimpan potensi gempa megatrust berkekuatan 8,5 magnitudo dan gelombang tsunami hingga 20 meter. Namun, gempa sebesar itu sesungguhnya tidak hanya berpotensi terjadi di Lombok bagian selatan tapi bisa terjadi di wilayah selatan Indonesia mulai NTT, Bali, Jawa hingga Sumatera.”Tapi, kapan waktunya tidak ada yang tahu bahkan teknologi secanggih apapun tidak bisa memprediksi dan mengetahui kapan akan terjadi gempa itu,” ujarnya di sela-sela seminar manajemen kebencanaan yang dilaksakan di Universitas Nahdatul Ulama (NU) NTB yang juga dihadiri pakar geologi dan kegempaan dari Universitas Brigham Young, Utah, Amerika Serikat, Prof Ron Harris, pada Kamis (4/7/2019)
Menurut Agus, jika merujuk pada sejarah dan hasil penelitian gempa besar pernah terjadi di perairan selatan, khususnya Lombok pernah terjadi pada  500-1000 tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan dari jejak pasir sisa tsunami yang tertinggal.”Sekarang belum ada aktivitas lagi, kalau pun ada kita harap gempanya kecil-kecil dan intensitasnya banyak, sehingga terlepas. Tapi kalau diam  terlalu lama itu artinya sedang mengumpulkan energi dan ini yang tidak kita harapkan. Karena sifatnya di selatan itu seperti itu, hampir sama dengan selatan Bali, Jawa hingga Sumatera bisa ratusan tahun seperti yang terjadi di Aceh.itu ratusan tahun terulang kembali pada tahun 2004 gempa besar dan tsunami,” kata Agus Riyanto.
Pernyataan BMKG itu juga diamini pakar geologi dan kegempaan Prof. Ron Harris. Bahkan, dirinya memperkirakan potensi gempa di selatan Indonesia bisa sampai 9 magnitudo. Meski ada potensi gempa besar, namun berdasarkan data sejarah belum pernah lagi terjadi gempa besar di lempeng Indo-Australia. Tapi secara teknis dari hasil riset pergerakan naik lempeng bumi mencapai 7 cm pertahun dan lempeng Indo-Australia saat ini diperkirakan ada pada ketinggian 35 meter lebih.
Ron Harris, mengatakan tidak ada yang bisa memastikan gempa Megathrust,akan terjadi. Terpenting, harus dimulai dari sekarang bagaimana membangun kesadaran mitigasi bencana oleh masyarakat di daerah rawan bencana bisa terus ditingkatkan. [slNEWS – erwin]

No Responses

Tinggalkan Balasan