Dampak Covid-19, Kamar Hotel di Mandalika Banting Harga

Dampak Covid-19, Kamar Hotel di Mandalika Banting Harga
Ketua Mandalika Hotel Association (MHA) Samsul Bahri

SUARALOMBOKNEWS.com – LOMBOK TENGAH | Sektor Pariwisata merasa sangat terpukul terhadap dampak wabah Virus Corona atau Covid-19.
Akibatnya, Objek Wisata yang menjadi Andalan, khususnya di Kabupaten Lombok Tengah termasuk super prioritas seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) The Mandalika di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) sepi pengunjung.
Hotel – Hotel yang tergabung dalam Mandalika Hotel Association (MHA) pun terpaksa merumahkan sebagian Karyawannya.
Bahkan dampak wabah Virus Corona yang telah ditetapkan menjadi Bencana Nasional Non Alam Covid-19 membuat beberapa hotel di kawasan Kuta tutup total. Sisanya tetap buka, tetapi tanpa tamu.”Kalau dipersentasekan, hanya sekitar 1 sampai 2 persen dari total 1.000 kamar yang tersedia di 30 hotel yang tergabung dalam MHA. Bahkan, ada hotel besar yang hampir seminggu sudah kosong. Hotel yang tetap buka hanya agar karyawannya tetap masuk. Itu pun bergilir misalnya 15 hari masuk, 15 hari libur. Kamar yang dibuka juga tidak menyertakan sarapan, hannya menjual Kamar saja sehingga staf dapur dan pelayan tidak perlu masuk. Dan sampai dengan saat ini belum ada karyawan hotel baik permanen maupun kontrak yang dirumahkan. Kebijakan pemutusan hubungan kerja baru berlaku untuk pekerja harian (daily worker/DW), dan jumlahnya ratusan atau sekitar 95 persen,”ungkap Ketua Mandalika Hotel Association (MHA), Samsul Bahri, Sabtu (11/04/2020).
Menurut Samsul, untuk mensiasati sepinya tamu, sejumlah hotel sudah mulai menawarkan paket kamar untuk satu bulan menginap dan memberikan diskon harga kamar hotel mulai dari 50 sampai dengan 60 persen per malam. Hanya saja, untuk menerima tamu, mereka memberlakukan protokol Kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19. Dan sepinya tamu akibat Wabah Covid-19 juga dimanfaatkan oleh sejumlah pengelola Hotel untuk melakukan Renovasi atau atau membangun tambahan kamar Hotel maupun penambahan Fasilitas Hotel lainnya.”Kami melihat identitas dan riwayat perjalanan. Jika masuk hotel, mereka harus cuci tangan dan disemprot disinfektan. Harga kamar hotel juga dijual dengan harga tidak normal, bahkan ada yang memberikan Diskon 50 sampai dengan 60 persen per malam,”ucapnya
Samsul juga mengungkapkan, tamu yang masih tinggal di hotel adalah wisatawan yang tidak bisa kembali ke negara asal, sedang libur panjang, atau memiliki proyek di kawasan Kuta.”Tamu sangat sepi, tamu yang masih tinggal di Hotel sebagian wisatawan yang belum bisa kembali ke Negaranya, tamu yang sedang berlibur panjang dan tamu yang memiliki kegiatan di Kawasan Kuta,”keluhnya
Untuk itu Samsul meminta kepada pemerintah untuk memberikan keringanan Pajak Hotel dan Restorat dimasa tanggap Darurat Bencana Nasional Non Alam Covid-19.”Kami juga meminta keringanan Pajak Hotel dan Restaurat, kalau bisa dari bulan Februari, karena tamu sudah mulai sepi dari akhir Februari akibat wabah Covid-19,”pintanya

Terkait pencegahan penyebaran Covid-19, kata Samsul, MHA bersama PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC), dan perusahaan vendor E-Colab, termasuk polisi dan pemerintah desa Kuta, sudah melakukan dua kali penyemprotan disinfektan.”Minggu lalu di sepuluh hotel termasuk hotel di area Bandara Internasional Lombok. Kemudian hari ini penyemprotan ulang secara massal di hotel-hotel lain, termasuk ke homestay-homestay hingga ke Kawasan Selong Belanak,” kata Samsul.
Pantauan suaralomboknews.com, Sabtu, (11/04/2020) siang, area yang biasanya ramai oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara terlihat lengang. Misalnya di Jalan Raya Kuta ke arah selatan Kantor Desa Kuta yang banyak terdapat restoran dan kafe. Sebagian besar usaha itu tutup.
Hannya terlihat satu – dua wisatawan baik yang berjalan kaki atau bersepeda motor. Kondisi membuat beberapa toko-toko penjualan oleh-oleh di kawasan itu juga tutup.
Kondisi serupa juga terlihat di Kuta Beach Park Mandalika. Salah satu bagian penting kawasan Mandalika itu tampak lengang, baik dari wisatawan asing maupun lokal.
Padahal pada hari normal, bisanya puluhan wisatawan yang datang dalam satu jam baik yang ke area taman atau ke pantai. Warga yang biasanya banyak berkeliling berjualan kain tenun atau souvenir di kawasan itu, juga tidak terlihat. [slNEWS – rul]

No Responses

Tinggalkan Balasan